Lalu Abu Lahab berkata, “Mari ke sini! Sungguh, kamu pasti datang membawa kabar.”
Abu Sufyan pun duduk di hadapan Abu Lahab. Sedang yang lain berdiri di sekeliling mereka.
Abu Lahab berkata, “Keponakanku! Beritahukanlah, mengapa orang-orang kita bisa kalah?”
Abu Sufyan bin Harits berkata, “Demi Allah! Begitu kami bertemu dengan mereka, seakan-akan kami hanya menyerahkan diri kami kepada mereka.
Mereka membunuh kami semau mereka dan menawan kami semau mereka. Demi Allah! Meskipun demikian, aku tidak mencela pasukan Quraisy, karena lawan yang kami jumpai adalah orang-orang yang serba putih, mengendarai kuda-kuda belang di antara langit dan bumi.
Demi Allah! Mereka tidak menyisakan lawan sedikit pun dan tidak ada seorang pun yang sanggup menghadapi mereka.”
Abu Raf berkata: Lalu aku mengangkat ujung tenda itu dengan tanganku seraya berkata, “Demi Allah! itu adalah para malaikat
Maka Abu Lahab mengangkat tangannya dan meluncurkannya ke wajahku demikian kerasnya. Aku pun melompat ke arahnya, akan tetapi la mengangkat dan menjatuhkan badanku ke atas tanah kemudian ia duduk di atas dadaku dan memukuliku, sedangkan aku adalah seorang laki-laki yang lemah.
Lalu berdirilah Ummul fadhl menuju salah satu tiang tenda. la pun mengambilnya dan memukulkannya kepada Abu Lahab dengan pukulan yang meninggalkan luka yang buruk di kepalanya.
Ummul fadhl berkata kepadanya, “Kamu menganggap budak itu lemah karena majikannya tidak ada di sini?”
Kemudian Abu Lahab pergi dalam keadaan terhina. Demi Allah! Tidak lebih dari tujuh malam setelah itu, Allah menimpakan penyakit cacar kepadanya, sehingga menyebabkan kematiannya.
Yunus menambahkan riwayat dari lbnu Ishaq: Kedua anak Abu Lahab membiarkan jenazah ayahnya selama tiga hari setelah kematiannya.
Mereka tidak menguburkannya sehingga berbau busuk. Sementara orang Quraisy menjauhi penyakit cacar sebagaimana mereka menjaga diri mereka dari Penyakit Pes.






