5. Peristiwa yang Terjadi Antara Umar dan Sa’id bin ‘Ash Radhiyallahu ‘Anhuma Tentang Kematian Ayahnya
IBNU HISYAM menyampaikan riwayat dari Abu ‘Ubaidah dan para pakar tentang peperangan yang lainnya bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Sa’id bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu-ketika berpapasan dengannya-, “Aku melihat sepertinya kamu memendam sesuatu.
Mungkin kamu mengira bahwa akulah yang membunuh ayahmu.
Seandainya aku telah membunuhnya, aku tidak akan meminta maaf kepadamu karena telah membunuhnya, tetapi itu berarti bahwa aku telah membunuh pamanku sendiri-‘Ash bin Hisyam bin Mughirah.
Namun, yang sebenarnya terjadi adalah bahwa aku melihat ayahmu jatuh tersungkur seperti seekor banteng yang menggali tanah dengan tanduknya.
Lalu, aku pun menghindar darinya.
Kemudian, saudara sepupunya (Ali) datang dan membunuhnya.”
[Demikian dalam kitab Al-Bidayah Wan-Nihayah (3/290)].
Disebutkan ada tambahan dalam kitab al-Isti’âb dan al-Ishâbah: Lalu Sa’id bin ‘Ash berkata kepada Umar, “Seandainya kamu membunuhnya, memang kamulah yang benar dan dialah yang salah.”
Maka Umar merasa senang dengan ucapannya.
6. Reaksi Abu Hudzaifah Radhiyallahu ‘Anhu ketika Melihat Ayahnya Diseret ke dalam Sumur pada Peristiwa Perang Badar
IBNU JARIR meriwayatkan beserta sanadnya dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhâ, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar para korban perang Badar dari kalangan kaum musyrikin diseret ke dalam sumur.
Setelah itu mereka dilemparkan ke dalamnya, beliau berdiri dan bersabda, “Wahai, penghuni sumur, apakah kalian mendapati bahwa apa yang dijanjikan Tuhan kalian (siksa) adalah nyata?
Sesungguhnya, aku telah menemukan bahwa apa yang dijanjikan oleh Tuhanku kepadaku (kemenangan) adalah nyata.”
Orang-orang berkata, “Wahai, Rasulullah! Apakah engkau berbicara kepada orang-orang yang mati?”
Beliau bersabda, “Sungguh, mereka telah mengetahui bahwa apa yang dijanjikan Tuhan mereka adalah nyata.”
Ketika Abu Hudzaifah bin ‘Utbah radhiyallahu ‘anhu melihat ayahnya diseret ke sumur, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menangkap adanya rasa tidak suka pada wajahnya, lalu bertanya, “Wahai, Abu Hudzaifah! Sepertinya kamu tidak suka terhadap apa yang kamu lihat?”
Lalu, ia berkata, “Wahai, Rasulullah!
Sesungguhnya, ayahku adalah seorang pemimpin. Aku berharap bahwa Allah akan membimbingnya kepada Islam.
Kematiannya dalam kemusyrikan telah membuatku sedih lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan kebaikan untuk Abu Hudzaifah.
[Demikian dalam kitab Kanzul-‘Ummål (5/269)].












