7 - Pemimpin

Khutbah Umar Tentang Kekhalifahan Abu Bakar dan Pengungkapan Peristiwa Saqifah bani Saidah

30
×

Khutbah Umar Tentang Kekhalifahan Abu Bakar dan Pengungkapan Peristiwa Saqifah bani Saidah

Sebarkan artikel ini

AHMAD (1/55) meriwayatkan beserta sanadnya dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhum bahwa Abdurrahman bin Auf rodhiyallahu ‘anhu kembali ke rombongannya, Ibnu Abbas mengatakan: Aku biasa membacakan Alquran untuk Abdurrahman bin Auf, ia mendapatiku sedang menunggunya.

Ini terjadi di Mina saat terakhir kalinya Umar bin Khattab rodhiyallohu anhu menunaikan haji.

Abdurrahman bin Auf berkata, “Seseorang menghampiri Umar bin Khattab lalu berkata: Si Fulan A mengatakan, Kalau Umar mati, aku akan membaiat si Fulan B (Thalhah bin Ubaidillah).

Demi Allah, pembaiatan Abu Bakar hanyalah terjadi secara spontan namun terus berlaku.

Umar menyahut, Insya Allah, sore ini aku akan menyampaikan Khutbah kepada semua orang untuk mengimbau mereka agar waspada terhadap sekelompok orang yang ingin menyerobot tampuk kekhalifahan dari tangan mereka.

Lalu aku katakan, Wahai, Amirul Mukminin! Jangan Engkau lakukan itu, karena musim haji ini menghimpun semua orang termasuk orang-orang jembel dan pandir.

Merekalah yang akan mendominasi majelismu bila Engkau menyampaikan khutbah.

Aku khawatir Engkau akan menyampaikan suatu perkataan yang akan disalah-pahami oleh mereka.

Mereka tidak akan dapat menyerap ucapanmu dan tidak pula paham maksud yang sesungguhnya.

Akan tetapi, ketika telah tiba di Madinah (karena ia adalah negeri hijrah dan sunah) dan Engkau kumpulkan para ulama dan tokoh masyarakat, lalu Engkau katakan apa yang hendak Engkau katakan dengan tenang, mereka tentu akan dapat menyerap ucapanmu dan memahaminya dengan benar.

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, Jika aku tiba kembali di Madinah dengan selamat, persoalan inilah yang akan aku sampaikan pertama kali kepada masyarakat.”

Lanjut ibnu Abbas: Setiba kami di Madinah pada penghujung bulan Zulhijah (hari Jumat) aku segera bergegas menuju masjid di siang bolong tanpa menghiraukan terik matahari (dengan lafal ‘shakkatul-a’ma’).

(Aku bertanya kepada Malik: Apakah maksud ‘shakkatul-a’ma?

Malik menjawab: Dia tidak peduli waktu apa dia berangkat, tidak kenal panas, dingin atau apa pun yang lain).

Di sana aku dapati Sa’id bin Zaid telah mendahuluiku, duduk di dekat pojok mimbar sebelah kanan.

Aku pun duduk tepat di sampingnya, lututku menyentuh lututnya. Tidak lama kemudian, Umar pun datang.

Begitu melihatnya, aku berkata, “Sore ini, pasti dia akan mengatakan sesuatu yang belum pernah dikatakan siapa pun.”

Sa’id bin Zaid menyangkal ucapanku dengan mengatakan, “Saya kira dia tidak akan mengatakan sesuatu yang belum pernah dikatakan orang lain.”

Umar radhiyallahu ‘anhu duduk di atas mimbar. Setelah muazin selesai
mengumandangkan azan, Umar pun berdiri.

Dia memuji Allah dengan pujian yang pantas untukNya, lalu mengatakan, “Hadirin, sekalian! Aku akan mengatakan suatu perkataan yang telah ditakdirkan kepadaku untuk mengatakannya (Entah, mungkin ajalku sudah dekat) Barangsiapa dapat menghafalnya dan memahaminya, hendaklah menyampaikannya ke tempat yang dapat dijangkau hewan tunggangannya.

error: Content is protected !!