11 - ImanUpdate

Iman dan Keyakinan Para Sahabat Nabi SAW. Kepada Perkara yang Ghaib (2)

17
×

Iman dan Keyakinan Para Sahabat Nabi SAW. Kepada Perkara yang Ghaib (2)

Sebarkan artikel ini

6. Kabar Gembira dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Ketika Beliau Berada di Kadid

AHMAD meriwayatkan beserta sanadnya dari Rifa’ah Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Suatu ketika kami dalam perjalanan berangkat (di jalan Allah) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ketika kami berada di Kadid (ia berkata: di Lembah Qudaid) beberapa orang meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kembali kepada keluarga mereka, maka beliau mengizinkan mereka.

Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri, membaca tahmid dan menyampaikan tsand’ kepada Allah, kemudian beliau bersabda, “Bagaimana itu! Orang-orang yang lebih benci terhadap satu sisi pohon yang berdekatan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam daripada sisi yang lain?”

Maka ketika itu semua orang menangis, lalu seseorang berkata, “Sesungguhnya, orang yang minta izin setelah ini (untuk pulang ke rumahnya) adalah orang bodoh.”

Kemudian, beliau memuji Allah dan menyampaikan kata-kata yang baik, dan bersabda, “Aku bersaksi di hadapan Allah, bahwa apabila seorang hamba meninggal sedangkan ia bersaksi dengan hati yang penuh yakin bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwasanya aku adalah utusan Allah, kemudian ia berlaku lurus, maka pastilah ia akan masuk surga.”

Beliau juga bersabda, “Tuhanku ‘azza wajalla telah berjanji kepadaku, bahwa Dia akan memasukkan ke dalam surga diantara umatku sebanyak tujuh puluh ribu (70.000) orang tanpa hisab maupun azab.

Dan aku sungguh berharap bahwa mereka tidak masuk ke dalam surga lebih dahulu sebelum kalian, orang-orang saleh di antara nenek moyang kalian, pasangan-pasangan kalian, dan anak keturunan kalian menempati tempat-tempat tinggal di dalam Surga.”

[Haitsami (1/20) berkata: Diriwayatkan oleh Ahmad dan pada riwayat Ibnu Majah sebagiannya. Para perawinya dianggap tsiqah].

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Darimi, ibnu Khuzaimah, ibnu Hibban dan Thabarani secara panjang lebar, -sebagaimana dalam kitab Kanzul-‘Ummál (5/287).

Dalam riwayat mereka disebutkan: Lalu, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya, orang yang minta izin kepadamu setelah ini (untuk pulang ke rumah) adalah orang yang bodoh.”