8. Keluarnya Orang-orang yang Mengucapkan Syahadat dari Neraka
THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Apabila ahli Neraka telah berkumpul di dalam Neraka dan bersama mereka ada orang-orang ahli kiblat (kaum muslimin), orang-orang kafir akan berkata kepada kaum muslimin tersebut, Bukankah dahulu kalian adalah orang-orang Islam?
Mereka menjawab, Ya
Orang-orang kafir bertanya lagi, Lalu, apa manfaat keislaman kalian, sedangkan kini akhirnya kalian bersama kami di Neraka?’
Mereka berkata, Dahulu kami telah berbuat dosa, maka kini kami disiksa karenanya. Begitu Allah mendengar apa yang mereka katakan, Dia memerintahkan agar orang-orang ahli kiblat yang berada di dalam Neraka dikeluarkan.
Tatkala orang-orang kafir yang tetap tinggal di Neraka melihat hal itu, mereka berkata, “Wahai, seandainya dahulu kami menjadi kaum muslimin, tentu kami akan keluar (dari Neraka) sebagaimana mereka telah keluar darinya.
Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Alif lam, ra. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat Al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) Alquran yang memberi penjelasan.
Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. (QS. Al-Hijr: 1-2).
Diriwayatkan oleh ibnu Abi Hatim dengan lafal yang sebagian besarnya sama, dan di dalamnya disebutkan basmalah, bukan istiazah.
Menurut riwayat Thabarani dari Anas radhiyallahu ‘anhu secara marfu; bahwa diantara ahli La ilaha illallah ada yang masuk Neraka karena dosa-dosa mereka.
Lalu, para penyembah Lata dan ‘Uzza berkata kepada mereka, “Apa manfaat kalian dahulu mengucapkan La ilaha illallah, sedangkan kini kalian bersama kami di Neraka?”
Maka marahlah Allah terhadap orang-orang kafir itu, kemudian Allah mengeluarkan mereka (muslim), lalu melemparkan mereka ke dalam nahrul-hayah (sungai kehidupan).
Maka hilanglah bekas-bekas gosong mereka sebagaimana bulan purnama terbebas dari gerhananya.
Mereka pun masuk Surga dan di sana mereka disebut Jahannamiyyun (para mantan penghuni Jahannam).
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Thabarani dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dengan rangkaian kalimat yang lain, dengan lafal yang sebagian besarnya sama.
Dalam riwayat yang lain disebutkan: Lalu, di Surga, mereka disebut sebagai Jahannamiyyun, karena ada tanda hitam pada wajah-wajah mereka.
Maka mereka berkata, “Wahai, Tuhan kami. Hilangkanlah tanda ini dari diri kami.”
Lalu Allah menyuruh mereka agar mandi di sebatang sungai di dalam Surga, maka hilanglah tanda hitam itu dari wajah mereka.
[Demikian dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir (2/546)].










