9. Selamatnya Segolongan Orang yang Mengucapkan Syahadat dari Neraka
AL-HAKIM meriwayatkan beserta sanadnya dari Rib’i dari Hudzaifah radhiyallohu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Islam akan pudar sebagaimana memudarnya warna hiasan pada pakaian, sehingga tidak diketahui apa itu puasa, sedekah, ataupun ibadah lainnya.
Kitab Allah azza wajalla akan diangkat (dihilangkan) dalam satu malam, sehingga tidak ada satu ayat pun yang masih tersisa di muka bumi.
Namun, masih ada beberapa kelompok manusia, yaitu kakek-kakek tua renta dan nenek-nenek tua renta.
Mereka berkata, ‘Kami mendapati bapak-bapak kami mengucapkan kalimat La ilaha illallah, maka kami pun mengucapkannya.”
Shilah’ bertanya kepada Hudzaifah, “Apakah kalimat La ilaha illalláh masih berguna bagi mereka sedangkan mereka tidak mengetahui apa itu puasa, sedekah, dan ibadah lainnya?”
Maka Hudzaifah berpaling darinya. Lalu, Shilah mengulang pertanyaan tersebut tiga kali, dan Hudzaifah selalu berpaling setiap kali Shilah bertanya.
Akhirnya pada yang ketiga kalinya, Hudzaifah menghadap ke arah Shilah dan berkata, “Wahai, Shilah. Kalimat tersebut akan menyelamatkan mereka dari Neraka. Kalimat tersebut akan menyelamatkan mereka dari Neraka. Kalimat tersebut akan menyelamatkan mereka dari Neraka.”
(Al-Hakim berkata: Hadis ini adalah hadis shahih menurut syarat sanad Muslim, namun Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Shahih mereka).
(Dzahabi berkata: Memenuhi syarat sanad Muslim).
10. Perkataan Ali, Abu Darda’ dan Ibnu Mas’ud Mengenai Syahadat dan Orang-orang yang Mengucapkannya
ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliya’ dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Orang-orang yang paling fasih dan paling mengenali Allah ‘azza wajalla adalah orang-orang yang paling mencintai dan memuliakan orang-orang yang mengucapkan La ilaha illallah.[Demikian dalam kitab Kanzul-‘Ummál (1/76)].
Abu Nu’aim meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliyo dari Salim bin Abul-Ja’d, ia berkata: Dikatakan kepada Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa Abu Sa’d bin Munabbih membebaskan seratus (100) orang budak.
Lalu, ia berkata, “Seratus (100) orang budak dari harta seseorang adalah jumlah yang cukup banyak.
Jika kamu mau, aku akan memberitahukan kepadamu sesuatu yang lebih utama dari itu. Yaitu iman yang selalu tertanam di dalam hati baik pada siang maupun malam hari, dan hendaklah lidahmu selalu basah dengan dzikrullah ‘azza wajalla.”
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh ibnu Abid-Dunya secara mauquf dengan sanad hasan dari Salim bin Abul-Ja’d, ia berkata: Dikatakan kepada Abu Darda’: Sesungguhnya, seseorang membebaskan… -Lalu perawi meneruskan riwayatnya dengan lafal yang sebagian besarnya sama, -sebagaimana dalam kitab At-Targhib wat-Tarhib (3/55).
Thabarani meriwayatkan beserta sanadnya dari Abdullah -yakni Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Sesungguhnya, Allah membagi akhlak diantara kalian, sebagaimana Dia membagi rezeki di antara kalian.
Sesungguhnya Allah memberi harta kepada orang yang Dia cintai dan orang yang tidak Dia cintai.
Namun, Dia hanya memberi iman kepada orang yang Dia cintai. Maka apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memberinya iman.
Barangsiapa merasa kikir untuk menafkahkan harta, merasa takut untuk melawan musuh, dan merasa tidak sanggup menanggung susah payah (untuk beribadah) di malam hari, maka hendaklah ia memperbanyak mengucapkan Lâ ilâha illallâh, allahu akbar, al-hamdulillah dan subhanallah.










