1. Kecintaan Abdullah Bin Rawahah Radhiyallahu ‘Anhu Terhadap Majelis-Majelis Iman
AHMAD meriwayatkan beserta sanadnya dengan sanad hasan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Apabila Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia biasa berkata, “Mari kita beriman kepada Tuhan kita sesaat.”
Lalu, pada suatu hari, ia berkata seperti itu kepada seseorang, maka marahlah orang itu.
Kemudian, orang itu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berkata, “Wahai, Rasulullah. Lihatlah ibnu Rawahah. Ia berpaling dari iman yang engkau ajarkan kepada iman sesaat.”
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semoga Allah merahmati ibnu Rawahah. Ia menyukai majelis-majelis yang dibangga-banggakan oleh para malaikat.”
[Demikian dalam Kitab At-Targhib wat Terhib (3/63)]
Al-Hafiz ibnu Katsir berkata dalam Kitab Al-Bidayah (4/258): Hadis ini hadis yang sangat ghorib.
Baihaqi berkata-dengan sanadnya dari ‘Atha’ bin Yasar-bahwa Abdullah bin Rawahah berkata kepada salah seorang temannya, “Mari kita beriman sesaat.”
Temannya itu berkata, “Bukankah kita orang mukmin?”
Abdullah berkata, “Benar, tetapi kita akan mengingat-ingat Allah sehingga iman kita akan bertambah.”
Al-Hafiz Abul-Qasim Lalika’i telah meriwayatkan dari Syuraih dari Ubaid, bahwa Abdullah bin Rawahah biasa memegang tangan salah seorang sahabatnya, lalu berkata, “Mari kita beriman sesaat, dengan duduk dalam majelis zikir.
Hadis ini mursal dilihat dari dua rangkaian sanad ini.
Thayalisi meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Suatu ketika Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu memegang tanganku, lalu berkata, “Mari kita beriman sesaat! Sesungguhnya, hati lebih cepat berbalik daripada periuk apabila bergolak karena mendidih.”
Menurut riwayat ibnu Asakir, ia berkata: Apabila Abdullah bin Rawahah bertemu denganku, ia biasa berkata kepadaku, “Hai, Uwaimir’, duduklah untuk bermuzakarah sesaat!”
Lalu, kami pun duduk bermuzakarah. Kemudian, ia berkata, “Ini adalah majelis iman. Iman itu seperti baju gamismu, adakalanya setelah kamu melepasnya, kamu memakainya lagi, dan setelah kamu memakainya, kamu melepasnya lagi.
Sesungguhnya, hati lebih cepat berbalik daripada periuk apabila bergolak karena mendidih.”
[Demikian dalam Kitab Kanzul-Ummal (1/101)].
2. Kecintaan Umar dan Mu’adz Radhiyallahu ‘Anhuma Terhadap Majelis-majelis Iman
IBNU ABI SYAIBAH dan Lalikai meriwayatkan beserta sanadnya dalam Kitab As-Sunnah dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Umar biasa memegang tangan salah seorang sahabatnya, lalu berkata, “Mari kita menambah iman kita.”
Merekapun berbicara tentang (kebesaran) Allah ‘azza wajalla.
[Demikian dalam Kitab Kanzul-Ummál (10/207)].










