15 - Do'aUpdate

Adab-adab Berdo’a yang Diajarkan Nabi SAW.

3
×

Adab-adab Berdo’a yang Diajarkan Nabi SAW.

Sebarkan artikel ini

1. Nabi Shallallôhu Alaihi Wasallam Mengajarkan Adab Berdoa kepada
Sebagian Sahabat Radhiyallâhu ‘Anhum

IBNU ABI SYAIBAH meriwayatkan beserta sanadnya dari Mu’adz bin Jabal radhiyallähu ‘anhu, ia berkata: Suatu ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam lewat di dekat seseorang ketika ia berdoa, “Ya, Allah. Aku mohon kepadaMu akan kesabaran”

Maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kamu telah meminta cobaan kepada Allah. Namun, mintalah kepadaNya akan keselamatan”

Suatu ketika beliau lewat di dekat seseorang ketika ia berdoa, “Ya, Allah. Aku mohon kepadaMu nikmat yang sempurna.”

Lalu, beliau bertanya, “Hai, anak Adam. Tahukah.kamu apakah nikmat yang sempurna itu?”

la berkata, “Yaitu doa (mustajab) untuk memohon harta yang banyak, wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda, “Di antara nikmat yang sempurna adalah masuk ke dalam Surga, dan selamat dari Neraka.”

Dan suatu ketika beliau lewat di dekat seseorang ketika ia berdoa, “Wahai, Zat yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan!”

Beliau pun bersabda, “Doamu telah dikabulkan, maka mohonlah sekarang.” [Demikian dalam kitab Kanzul-Ummâl (1/292)].

2. Kisah Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam Bersama Seseorang yang Telah Berdoa Agar Disegerakan Hukumannya

IBNU ABI SYAIBAH meriwayatkan beserta sanadnya dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata: Suatu ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menjumpai seseorang yang keadaannya amat memprihatinkan bagaikan seekor anak burung yang belum tumbuh bulunya.

Lalu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, “Apakah dulu kamu pernah berdoa tentang suatu hal kepada Allah?”

Orang itu berkata, “Dulu aku pernah berdoa: Ya, Allah. Apabila Engkau hendak menghukumku di akhirat, maka segerakanlah hukuman itu terhadapku di dunia”

Lalu, Nabi shallalláhu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Hendaklah kamu berdoa: “Ya, Allah. Berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungi
kami dari siksa Neraka.”

Kemudian, orang itu berdoa kepada Allah, maka ia pun sembuh. [Demikian dalam kitab Kanzul-Ummal (1/290)].

Diriwayatkan pula beserta saradnya oleh ibnu Najjar dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu dengan lafal yang sebagian besarnya sama sebagaimana dalam kitab Kanzul-Ummál

3. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam Menolak Mendoakan Basyir bin Khashashiyah Radhiyallahu ‘Anhu Agar Mati Lebih Dahulu Sebelum Beliau

ABU NU’AIM meriwayatkan beserta saradnya dari Basyir bin Khashashiyah, ia berkata: Rasulullah shallall6hu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku memuji Allah yang telah mendatangkan kamu dari kabilah Rabah Al-Qasyam, sehingga kamu masuk Islam di hadapan Rasulullah sholladhu ‘alaihi wasallam”

Maka aku pun berkata, “Wahai, Rasulullah! Berdoalah kepada Allah agar mematikan saya sebelum engkau.”

Beliau bersabda, “Aku tidak akan berdoa seperti itu untuk siapa pun.” [Demikian dalam kitab Muntakhab Kanzil-Ummi (5/147))].

4. Nabi Shallallihu ‘Alaihi Wasallam Memulai Dengan Dirinya Sendiri dan Menghindari Persajakan Ketika Berdoa

IBNU ABI SYAIBAH, Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i dan yang lainnya meriwayatkan beserta sanadnya dari Ubay bin Ka’b radhiyallahu anhu, ia berkata: Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan seseorang beliau memulainya dengan dirinya sendiri.

Pada suatu hari beliau bercerita tentang Musa ‘alaihis salam. Beliau bersabda: Semoga rahmat Allah tercurah untuk kita serta Musa.

Jika ia bersabar, tentu ia akan melihat perkara-perkara yang menakjubkan dari kawannya (Khadhir).

Akan tetapi Musa berkata, jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (ikan) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan umur padaku” (QS. Al-Kahfi: 76).

Hamzah Az-Zayyat membaca kata “ladun dengan dhammah pada huruf dal dan tasydid pada nun.

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Tirmidzi dengan lafal yang sebagian.besarnya sama tanpa menyebutkan, Pada suatu hari beliau bercerita-dan seterusnya.

[Tirmidzi berkata: Hadis basan gharib. Demikian dalam kitab Kanzul-Ummál (1/290)].

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Thabarani dengan sanad bason dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu, dengan lafal: Apabila berdoa, beliau memulai dengan dirinya sendiri,-sebagaimana dalam kitab Majima uz-Zawaid (10/152).

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan beserta sanadnya dari Sya’bi, ia berkata: ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata kepada ibnu Abi Sa’ib-penutur kisah-kisah nasihat untuk penduduk Madinah-, “Hindarilah persajakan ketika berdoa, karena aku mengalami masa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, sedangkan mereka tidak melakukan hal tersebut.” [Demikian dalam kitab Kanzul-Ummål (1/292)].

5. Umar Radhiyallahu ‘Anhu Mengajari Seseorang Tentang Adab Berdoa dan Doa Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhuma Pada Akhir Malam

IBNU ABI SYAIBAH meriwayatkan beserta sanadnya dan Abu ‘Ubaid dari Umar, bahwa ia mendengar seseorang memohon perlindungan dari cobaan.

Maka Umar.berdoa, “Ya, Allah. Aku berlindung kepadaMu dari lafal doanya.” (Lalu ia berkata kepada lelaki itu,) “Apakah kamu memohon kepada Tuhanmu agar Dia tidak memberimu keluarga dan harta?” -Atau ia berkata, “Istri dan anak?”

Dalam lafal yang lain disebutkan, “Apakah kamu ingin agar Allah tidak memberimu harta dan anak?

Barangsiapa di antara kalian hendak memohon perlindungan dari cobaan, maka hendaklah ia memohon perlindungan dari cobaan-cobaan yang menyesatkan.” [Demikian dalam kitab Kanzul-‘Ummål (1/289)].

Thabarani meriwayatkan beserta sanadnya dari Muharib bin Ditsar dari pamannya, ia berkata: Dulu aku pernah melewati rumah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pada akhir malam.

Aku mendengarnya berdoa: “Ya, Allah. Engkau telah menyeru kepadaku, lalu aku memenuhi seruanMu. Engkau pun memerintahkan kepadaku, lalu aku menaatimu. Dan kini akhir malam telah tiba, maka ampunilah aku.”
Kemudian, ketika bertemu dengannya, aku pun berkata, “Aku pernah mendengarmu mengucapkan beberapa kalimat doa pada akhir malam.”

Lalu, aku menyebutkan kalimat tersebut.

Ia berkata, “Sesungguhnya, Ya’qub menunda (memohonkan ampunan untuk) anak-anaknya hingga ke akhir malam.”

[Haitsami (10/155) berkata: Dalam sanadnya terdapat Abdurrahman bin Ishaq Al-Kufi, dan dia adalah rawi yang dha’if).

error: Allahu Akbar