15 - Do'aUpdate

Doa Bersama, Doa Dengan Suara Keras dan Mengaminkan Doa

5
×

Doa Bersama, Doa Dengan Suara Keras dan Mengaminkan Doa

Sebarkan artikel ini

1. Nabi Shallalâhu ‘Alaihi Wasallam Mengamini Doa Zaid, Abu Hurairah, dan Seorang Sahabat yang Lain Radhiyallâhu Anhum

THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Al-Mu jamul-Ausath dari Qais Al-Madani bahwa seorang laki-laki datang kepada Zaid bin Tsabit radhiyaláhu ‘anhu, lalu bertanya tentang sesuatu.

Maka Zaid berkata kepadanya, “Tanyakanlah kepada Abu Hurairahl”

Lalu, ketika aku, Abu Hurairah, dan si Fulan berada di masjid sedang berdoa dan berzikir kepada Tuhan kami ‘azza wajalla, tiba-tiba Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam keluar menemui kami dan duduk di hadapan kami.

Maka kami pun diam. Lalu, beliau bersabda, “Teruskanlah apa yang kalian lakukan tadi.”

Zaid berkata: Aku dan kawanku berdoa lebih dahulu sebelum Abu Hurairah.

Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam pun mengaminkan doa kami.

Kemudian, Abu Hurairah berdoa, “Ya, Allah. Sesungguhnya, aku mohon kepadaMu seperti apa yang dimohon oleh kedua sahabatku. Dan aku juga memohon kepadaMu ilmu yang tidak akan dilupakan.”

Maka Nabi shallallâhu alaihi wasallam mengucapkan, “Amin!”

Lalu, kami berkata, “Wahai, Rasulullah! Kami juga ingin memohon kepada Allah akan ilmu yang tidak akan dilupakan.”

Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “kalian telah didahului oleh orang dari kabilah Daus (Abu Hurairah).”

[Haitsami (9/361) berkata: Oais ini adalah penutur kisah-kisah nasihat bagi Umar bin Abdul-‘Aziz. Tidak ada yang meriwayatkan hadis darinya selain anaknya sendiri yang
bernama Muhammad. Sedangkan para rawi yang lain tsiqah).

2 Doa Umar Radhiyalâhu Anhu dan Permintaannya kepada Orang-orang Agar Mengaminkannya Serta Bagaimana la Berdoa pada Tahun Paceklik

IBNU SA’D (3/275) meriwayatkan beserta sanadnya dari Jami bin Syaddad dari seseorang yang mempunyai kerabat dengannya, ia berkata: Aku pernah mendengar Umar bin Khattab radhiyallahu anhu berkata, “Ada tiga doa, apabila
aku mengucapkannya maka kalian ucapkanlah amin atasnya: “Ya, Allah. Aku ini orang yang lemah, maka kuatkanlah aku. Ya, Allah. Aku ini orang yang kasar, maka lembutkanlah aku. Ya, Allah. Aku ini orang yang bakhil maka berilah aku sifat dermawan.”

Ibnu Sa’d (3/321) juga meriwayatkan beserta sanadnya dari Saib bin Yazid, ia berkata: Pada suatu hari di masa paceklik, aku melihat Umar bin Khattab berangkat (untuk mengerjakan Shalat Istisqa’) dengan mengenakan pakaian usang dan penuh kerendahan. la mengenakan kain syal yang tidak sampai kepada lututnya.

Ia beristighfar dengan mengeraskan suaranya, sementara air matanya mengalir pada kedua pipinya. Di sebelah kanannya ada Abbas bin Abdul-Muthalib rodhiyallahu
‘anhu.

Lalu, pada hari itu, Umar berdoa dengan menghadap kiblat seraya rmengangkat kedua tangannya ke arah langit. la pun memanjatkan doa kepada Tuhannya dengan suara keras, dan orang-orang pun berdoa bersarnanya.

Kemudian, ia memegang tangan Abbas lalu berdoa: “Ya, Allah. sesungguhnya kami memohon kepadaMu dengan perantara paman Rasul-Mu Abbas pun terus berdiri di samping Umar sekian lama. Abbas berdoa sementara kedua matanya berlinang air mata.

3. Umar Radhiyalláhu ‘Anhu Duduk Bersama Sekelormpok Orang di Masjid dan Bagaimana Mereka Berdoa Satu demi Satu

IBNU SA’D  (3/294) meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Sa’id bekas budak Abu Usaid, ia berkata: Umar bin Khattab biasa melakukan ronda malam di masjid setelah lsya.

Apabila melihat seseorang di dalamnya ia pun mengeluarkannya kecuali orang yang sedang berdiri mengerjakan shalat.

Pada suatu kali, ia mendapati beberapa orang sahabat Rasulullah shallalôhu (alaihi wasallam. Diantara mereka ada Ubay bin Ka’b.

Lalu, Umar bertanya, “Siapakah orang-orang ini?”

Ubay berkata, “Beberapa orang dari kaum kerabatmu, wahai Amirul-Mukminin.”

Umar bertanya, “Apa yang membuat kalian tetap di sini seusai shalat (Isya)?”

Ubay berkata, “Kami duduk berzikir kepada Allah.”

Abu Said melanjutkan: Kemudian, Umar pun duduk bersama mereka, lalu berkata kepada orang yang paling dekat dengannya, “Berdoalah kamul”

Maka orang itu pun berdoa. Lalu, Umar meminta mereka semua agar berdoa satu demi satu.

Akhirnya, tibalah giliranku, sedangkan aku berada di samping Umar. la berkata, “Ayo, berdoalah!”

Maka lidahku terasa kelu dan badanku pun gemetar. Setelah mengerti apa yang aku alami, Umar berkata, “Berdoalah meskipun sekadar berkata: Ya, Allah. Ampunilah kami. Ya, Alah. Sayangilah kami.”

Kemudian, Umar sendiri berdoa. Diantara mereka yang hadir, tidak ada yang lebih banyak mengeluarkan air mata dan tidak ada yang lebih keras tangisannya dari pada Umar.

Seusai berdoa, Umar berkata, “Sekarang cukup! Kalian boleh pergi.

4. Doa Habib Bin Maslamah dan Nu’man bin Muqarrin Rodhiyollahu Anhuma Sebelum Peperangan

THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Hubairah dari Habib bin Maslamah Al-Fihri adalah orang yang doanya mustajab- bahwa suatu ketika ia ditugaskan menjadi amir pasukan.

Maka ia pun mencari jalan untuk memasuki wilayah musuh (Bangsa Romawi).

Ketika telah berhadapan dengan tentara musuh, ia berkata kepada pasukannya: Aku mendengar Rasulullah shallalláhu ‘olaihi wasallamn bersabda, “Apabila sekelonpok orang berkumpul, lalu salah seorang diantara mereka berdoa, sedangkan yang lain mengamininya, maka pasti Allah mengabulkan doa mereka.”

Kemudian, Habib memuji Allah lalu berdoa, “Ya, Allah. Lindungilah darah kami dan berikanlah kami pahala para syuhada”

Lalu, ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba datanglah panglima pasukan Romawi. la pun menemui Habib di kemahnya (untuk mengadakan perdamalan).

[Haitsami (10/170) berkata: Diriwayatkan oleh Thabarani dan ia berkata: Kata “Al-Hinbath” adalah bahasa Romawi yang berarti panglima pasukan.

Para perawinya adalah perawi kitab Shahih selain ibnu Lahi’ah, dan hadis yang diriwayatkannya hasan).

Telah disebutkan sebelumnya dalam bab Semangat untuk Mati Syahid dan Doa untuk Mendapatkannya, sebuah hadis yang panjang dari Ma’qil bin Yasar.

Dalam hadis tersebut disebutkan perkataan Nu’man bin Mugarrin, “Aku akan berdoa kepada Allah ‘azza wajalla dengan suatu doa.

Aku perintahkan kepada setiap orang dari kalian agar mengamininya: Ya, Allah. Pada hari ini, berikanlah mati syahid kepada Nu’man dalam kemenangan bagi kaum muslimin dan taklukkanlah musuh kami.”

[Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Thabari. Demikian ini diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Thabarani, para perawinya adalah perawi kitab Shahih.

Dalam riwayat yang lain ada tambahan: Maka orang-orang pun mengamininya, sebagaimnana dalam kitab Majma’uz-Zawa’id (6/216)].

Demikian ini diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Al-Hakim (3/294) dalam sebuah hadis yang panjang.

5. Bagaimana Dzul-Bijadain Radhiyallähu ‘anhu Berdoa dengan Suara Keras dan Sabda Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam Mengenainya, “Dia Adalah Orang
yang Banyak Berdoa dan Menangis.”

AHMAD meriwayatkan beserta sanadnya dan Thabarani dari ‘Uqbah bin ‘Amir bahwa Nabi shallalláhu alaihi wasallam bersabda mengenai seseorang yang bernama Dzul-Bijadain, “Dia adalah orang yang banyak berdoa dan menangis”

Hal itu, karena ia sering mengingati Allah ‘azza wajalla dengan membaca Alquran, dan biasa berdoa dengan suara yang keras.

[Haitsami (9/369) berkata: Sanad kedua hadis itu hasan).

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh ibnu Jarir dari ‘Uqbah dengan lafal yang sebagian besarnya sama, -sebagaimana dalam kitab Tafsir ibnu Katsir (2/395).

error: Allahu Akbar