14 - ZikirUpdate

Kecintaan Para Sahabat Nabi SAW. Terhadap Zikir

2
×

Kecintaan Para Sahabat Nabi SAW. Terhadap Zikir

Sebarkan artikel ini

1. Kecintaan lbnu Mas’ud Radhiyallâhu ‘Anhu Terhadap Zikir

THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallâhu anhu, ia berkata, “Sungguh, berzikir kepada Allah ‘azza wajalla selama satu hari penuh hingga malam tiba lebih aku sukai daripada melawan musuh yang mengendarai kuda-kuda pilihan yang kencang larinya selama satu hari penuh hingga malam tiba.”

[Haitsami (10/75) berkata: Diriwayatkan oleh Thabarani dari jalur sanad Qasim dari kakeknya-ibnu Mas’ud–namun ia tidak mendengar langsung darinya).

Menurut riwayat Thabarani dalam Al-Mu jamul- Kabir dari Abu Ubaidah bin Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Berat terasa bagi Abdullah bin Mas’ud untuk berbicara kecuali dengan zikrullah.

[Haitsami (2/219) berkata: Abu ‘Ubaidah tidak mendengar langsung dari ayahnya, dan para rawi yang lain tsiqah.

Dalam riwayatnya yang lain disebutkan bahwa berat terasa bagi ibnu Mas’ud untuk mendengar orang yang berbicara setelah terbit fajar hingga mengerjakan Shalat Subuh].

Menurut riwayat Thabarani dalam Al-Mu jamul-Kabir pula dari ‘Atha’, ia berkata: Suatu ketika ibnu Mas’ud menghampiri sekumpulan orang yang berbincang-bincang seusai Shalat Subuh.

Lalu, ia melarang mereka dari berbincang-bincang seraya berkata, “Kalian datang ke sini hanya untuk mengerjakan shalat. Silakan kalian mengerjakan shalat atau diam.”

[Haitsami berkata (2/219): ‘Atha’ tidak mendengar langsung dari ibnu Mas’ud, sedangkan para rawi yang lain tsiqah).

2. Kecintaan Abu Darda’ dan Mu’adz Radhiyallâhu ‘Anhumâ Terhadap Zikir

ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliyd (1/219) dari Abu Darda’ radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata, “Mengucapkan Allâhu Akbar sebanyak seratus (100) kali lebih aku sukai daripada menyedekahkan uang sebanyak seratus (100) dinar.”

Abu Nu’aim meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliyd” (1/235) dari Mu’adz bin Jabal radhiyallâhu anhu, ia berkata, “Sungguh, berzikir kepada Allah ta ‘Glâ sejak pagi hingga malam hari lebih aku sukai daripada berperang di jalan Allah melawan musuh yang mengendarai kuda-kuda pilihan yang kencang larinya sejak pagi hingga malam hari.”

3. Kecintaan Anas, Abu Musa, dan lbnu Umar Radhiyalláhu ‘Anhum Terhadap Zikir

ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliya” (1/259) dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata: Ketika kami bersama Abu Musa radhiyalláhu ‘anhu dalam sebuah perjalanan yang ia pimpin, ia mendengar orang-orang berbincang-bincang, dan membicarakan sesuatu dengan fasihnya.

Lalu, ia berkata, “Apa untungnya aku (mendengarkan pembicaraan seperti itu). wahai Anas? Mari kita mengingati Allah, karena orarng-orang berbincang-bincang begitu rupa sehingga nyaris dapat merobek kulit cengan lidahnya (karena saking fasihnya)” -Lalu perawi melanjutkan hadisnya sebagaimana yang telah disebutkan dalam bab Iman kepada Akhirat.

Thabarani meriwayatkan beserta sanadnya dari Mu’adz bin Abdullah bin Rafi radhiyallâhu ‘anhum, ia berkata: Ketika aku duduk dalam satu majelis yang dihadiri oleh Abdullah bin Umar, Abdullah bin Ja’far, dan Abdullah bin Abu ‘Umairah radhiyallâhu ‘anhum.

Lalu, ibnu Abi ‘Umairah berkata: Aku mendengar Mu’adz bin Jabal berkata: Aku mendengar Rasulullah shalallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada dua kalimat, salah satunya tidak ada malaikat yang bisa menghalanginya sebelum mencapai Arasy, dan yang lain memenuhi ruang antara langit dan bumi: Yaitu kalimat lâ ilâha illallâh dan Allâhu akbar.”

Lalu, ibnu Umar berkata kepada ibnu Abi ‘Umairah, “Kamu mendengar beliau bersabda demikian?”

“Ya,” sahutnya.

Maka menangislah Abdullah bin Umar hingga jenggotnya basah dengan air mata.

la pun berkata, “Itu adalah dua kalimat yang kami sukai dan telah terbiasa mengucapkannya.”

[Mundziri berkata dalam kitab At-Targhib Wat-Tarhib (3/94): Para perawinya sampai kepada Muadz bin Abdullah adalah tsiqah selain ibnu Lahi’ah. Namun, ada hadis lain yang menguatkan hadisnya ini].

[Haitsami (10/86) berkata: Tentang Mu’adz bin Abdullah, aku tidak mengenalinya, dan ibnu Lahiah hadisnya hasan, sedangkan para rawi yang lain tsiqah).

Ibnu Sa’d (7/22) meriwayatkan beserta sanadnya dari Jurairi, ia berkata: Suatu ketika Anas bin Malik berihram dari Dzatu Irq. Kami tidak mendengarnya berbicara apa-apa kecuali dengan zikrullah sampai tahallul.

Lalu, ia berkata kepadaku’, “Hai keponakanku, seperti inilah ihram.”

error: Allahu Akbar