1. Pengingkaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Terhadap Suatu Kaum Atas Perbuatan Tersebut
IBNU ‘ABDIL-BARR meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Jami’u Bayânil-‘Ilm (2/40) dari ‘Amr dari Yahya bin Ja’dah, ia berkata: Suatu ketika ditunjukkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebuah kitab yang ditulis pada lempengan tulang belikat.
Lalu, beliau bersabda, “Cukuplah suatu kaum dianggap bodoh – atau sesat-jika mereka tidak menyukai apa yang dibawa oleh Nabi mereka, dan justru memilih selain Nabi mereka atau kitab lain selain kitab suci mereka.”
Lalu, Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat: “Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Alkitab (Alquran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya, dalam (Alquran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-‘Ankabut: 51).
2. Pengingkaran Umar Radhiyallahu Anhu Terhadap Orang yang Menyalin Kitab Danial dan Kisahnya Bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam Tentang Perkara ini
ABU YA’LA meriwayatkan beserta sanadnya dari Khalid bin ‘Urfuthah, ia berkata: Ketika aku sedang duduk bersama Umar, tiba-tiba dihadapkan seorang laki-laki dari Bani Abdil-Qais yang bertempat tinggal di kota Sus.”
Lalu, Umar berkata kepadanya, “Kamu si Fulan bin si Fulan Al-Abdi?”
Orang itu berkata, “Ya.”
Lalu, Umar memukulnya dengan tongkat yang la bawa.
Orang itu pun berkata, “Apa salahku, wahai Amirul-Mukminin?”
Umar berkata kepadanya, “Duduklah kamu!”
Maka la pun duduk. Lalu, Umar membacakan ayat: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat kitab (Alquran) yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya, Kami menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.
Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Alquran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.” (QS. Yusuf: 1-3).
Umar membacakan ayat itu tiga kali dan memukulnya tiga kali pula.
Lalu, orang itu berkata, “Apa salahku, wahai Amirul-Mukminin?”






