16 - KhutbahUpdate

Khutbah-Khutbah Nabi SAW. Pada Masa Peperangan

2
×

Khutbah-Khutbah Nabi SAW. Pada Masa Peperangan

Sebarkan artikel ini

1. Khutbah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam di dalam Perang

THABRANI dan Bazzar meriwayatkan beserta sanadnya dari Jidar, salah seorang sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam, ia berkata: Suatu ketika kami berperang bersama Rasulullah shallahu alaihi wasallam.

Kemudian ketika kami bertemu dengan musuh, beliau pun berdiri, membaca tahmid dan tsana kepada Allah.

Kemudian beliau bersabda, “Hadirin sekalian! Sesungguhnya kalian telah berada (didalam nikmat-nikmat Allah ada yang berwarna hijau, kuning, dan merah, begitu pun di rumah-rumah kalian beserta apa yang ada di dalamnya.

Maka apabila kalian bertemu dengan musuh hadapilah dengan berani. Karena apabila seseorang menyerang musuh di jalan Allah, maka dua orang bidadari yang cantik bermata jell datang kepadanya dengan cepat Lalu apabila ia gugur sebagai syahid, maka dengan tetesan darahnya yang pertama di tanah, Allah SWT. akan menggugurkan seluruh dosanya. Dua bidadari itupun menyeka debu dari wajahnya seraya berkata, “Kini telah tiba waktumu (untuk berjumpa dengan kami).

la pun menyahut: ‘Kini telah tiba pula waktu kalian (untuk berjumpa denganku).”

[Haitsami (5/275) berkata: Dalam sanadnya terdapat ‘Abbas bin Fadhal Al-Ansari, dan dia adalah rawi yang dha’if].

2. Khotbah-khotbah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Ketika Singgah di Hijr dalam Perjalanan Menuju Perang Tabuk

THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam singgah di Hijr dalam perjalanan menuju perang Tabuk, beliau berdiri menyampaikan khotbah kepada orang-orang.

Beliau bersabda: “Hadirin sekalian! Janganlah kalian bertanya kepada Nabi kalian tentang mukjizatnya!

Lihatlah kaum Nabi Shalih!’ mereka meminta kepada Nabi mereka agar mengeluarkan seekor unta betina’ untuk mereka.

Maka Nabi Shalih pun mengabulkannya. Kemudian unta itu datang dari jalan ini, lalu meminum air mereka pada hari yang menjadi gilirannya.

Mereka pun memerah susunya sebanyak air yang biasa mereka dapatkan pada hari yang menjadi giliran unta tersebut.

Kemudian unta itu keluar dari jalan ini, lalu mereka menyembelihnya.

Maka Allah memberikan tempo kepada mereka selama tiga hari, sedangkan janji Allah tidak dapat didustakan.

Lalu datanglah kepada mereka suara keras yang mengguntur.

Maka Allah membinasakan orang-orang yang termasuk dari mereka di antara langit dan bumi, kecuali seseorang yang sedang berada di tanah suci. Tanah suci telah melindunginya dari siksa Allah.”

Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah dia?”

Beliau bersabda, “Abu Righal.”

[Haitsami (7/38) berkata: Diriwayatkan oleh Thabarani dalam kitab Al-Mu’jamul-Ausath, Bazzar dan Ahmad dengan lafal yang sebagian besar sama. Para perawi Ahmad adalah perawi kitab Shahih].

3. Khutbah Lain yang Disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam Perjalanan Menuju Tabuk

THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dalam Al-Mu’jamul-Kabir, dari Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhumâ, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam naik mimbar pada hari perang Tabuk, beliau menyampaikan tahmid dan tsana kepada Allah, kemudian beliau bersbda, “Hadirin sekalian! Sesungguhnya aku tidak menyuruh kalian kecuali dengan apa yang Allah perintahkan kepada kalian, tidak pula aku melarang kalian kecuali apa yang Allah larang kepada kalian.

Maka carilah (rezeki) dengan cara yang baik! Demi Zat Yang jiwa Abul-Qasim ada di tangan-Nya! Sesungguhnya setiap orang dari kalian dicari-cari oleh rezekinya sebagaimana ia dicari-cari oleh ajalnya.

Lalu jika terjadi kesulitan pada diri kalian dalam hal rezeki, maka carilah ia dengan ketaatan kepada Allah ‘azza wajalla.”

[Demikian dalam kitab At-Targhib wat-Tarhib (3/196)).

4. Khutbah Nabi Shallalahu Alaihi Wasallam Setelah Fathu Makkah

THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma, ia berkata: Setelah kota Makah berhasil ditaklukkan oleh Rasululah shallallähu ‘alaihi wasllam, beliau bersabda: “Tahanlah senjata kalian, kecuali Kabilah Khuza’ah terhadap Bani Bakar!”

Maka beliau mengizinkan kabilah Khuza’ah (untuk mengangkat senjata terhadap Bani Bakar) hingga Shalat Asar.

Kemudian setelah itu beliau bersabda, “Tahanlah senjata kalian!”

Kemudian pada keesokan harinya, bertemulah seseorang dari kabilah Khuza’ah dengan seseorang dari Bani Bakar di Muzdalifah, lalu membunuhnya.

Maka kabar itu sampai kepada Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam, lalu beliau berdiri menyampaikan khotbah dengan bersabda, (sedangkan aku melihat beliau yang ketika itu menyandarkan punggungnya ke Ka’bah), “Sesungguhnya orang yang paling dimusuhi oleh Allah adalah orang yang melakukan pembunuhan di tanah suci, atau membunuh orang yang tidak ingin membunuhnya, atau membunuh karena dendam jahiliyah.”

Maka berdirilah seorang laki-laki lalu berkata, “Si Fulan anak saya!”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dalam Islam tidak diperbolehkan menasabkan seseorang kepada selain ayah dan kerabatnya.

Kini, aturan zaman jahiliyyah telah musnah. Anak itu milik suami atau tuan dari wanita yang melahirkannya. Sedangkan bagi pezina adalah batu (al-atslab),”

Mereka berkata, “Apa maksud kata al-atslab?”

Beliau bersabda, “Maksudnya batu.”

Beliau juga bersabda, “Tidak ada shalat (nafil) setelah salat Silakan hingga terbit matahari, dan tidak ada shalat (nafil) setelah Shalat Ashar hingga terbenam matahari.”

Beliaupun bersabda, “Seorang perempuan tidak boleh dimadu dengan bibinya, baik dari pihak ibu maupun ayahnya.”

[Haitsami (6/178) berkata: Para perawinya tsiqot. Dalam kitab Shahih disebutkan larangan shalat setelah shalat hingga terbit dan terbenam matahari, sedangkan dalam kitab Sunan disebutkan sebagian darinya].

5. Khutbah Lain yang Disampaikan Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam Ketika Fathu Makkah

lBNU MAJAH meriwayatkan beserta sanadnya (hal. 478) dari lbnu Umar bahwa pada hari ketika terjadi Fathu Makkah, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam berdiri di atas tangga Ka’bah.

Beliau membaca tahmid dan tsaná kepada Allah, lalu bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan kelompok sekutu sendirian.

Ingatlah! Sesungguhnya orang yang terbunuh secara tersalah (tidak sengaja) yakni yang terbunuh dengan cambuk dan tongkat, dia atas pembunuhannya itu adalah seratus ekor unta, empat puluh ekor darinya adalah unta yang bunting, sedang mengandung janin unta di dalam perutnya.

Ingatlah! Sesungguhnya semua kedudukan yang menjadi kebanggaan secara turun temurun serta derndam atas pembunuhan pada zaman jahiliyah, kini (dihapuskan) dibawah kedua telapak kakiku ini, kecuali yang berupa perkhidmatan kepada baitullah dan pemberian minum kepada jamaah haji.

Ingatlahl Sesungguhnya aku nyatakan bahwa kedua tugas mulia itu tetap berlaku seperti sebelumnya.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan beserta sanadnya dari lbnu Umar radhiyallähu ‘anhumá, ia berkata: Pada hari ketika terjadi Fathu Makkah, Rasulullah shallalláhu ‘alaihi wasallam melakukan tawaf di atas untanya yang bernama Qashwa’.

Beliau menyentuh sudut-sudut ka’bah dengan tongkat yang beliau bawa di tangannya.

Lalu beliau tidak menemukan tempat yang cukup untuk menderumkan unta beliau di dalam masjid.

Akhirnya beliau turun dari unta di atas tangan-tangan para sahabat (sebagai pijakan kaki).

Beliau pun membawa untanya itu keluar menuju Bathnul-Masil, lalu unta itu diderumkan di sana.

Kemudian Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menyampaikan khotbah kepada kaum muslimin di atas hewan tunggangannya.

Beliau membaca tahmid dan tsana’ kepada Allah dengan apa yang pantas bagi-Nya.

Kemudian beliau bersabda: “Hadirin sekalian! Sesungguhnya Allah ta âlâ telah menghilangkan kesombongan masa jahiliyah dari diri kalian serta rasa kebanggaan terhadap nenek moyang.

Manusia terbagi menjadi dua macam: (1) orang saleh, bertakwa, dan mulia di sisi Allah ta’âlâ, dan (2) pendosa yang celaka dan hina dalam pandangan Allah ta’âlâ.

Sesungguhnya Allah ta’âlâ berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurât: 13)

Kemudian Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demikianlah apa yang aku sampaikan. Aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku sendiri dan juga untuk kalian semua.”

Demikian pula diriwayatkan oleh Abd bin Humaid, -sebagaimana dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir (4/218).

error: Allahu Akbar