16 - KhutbahUpdate

Khutbah Jum’at Nabi SAW. Pertama di Madinah

46
×

Khutbah Jum’at Nabi SAW. Pertama di Madinah

Sebarkan artikel ini

lBNU JARIR (2/115) meriwayatkan beserta sanadnya dari Sa’id bin Abdurrahman Al-Jumahi bahwa telah sampai kepadanya riwayat tentang khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam kesempatan Shalat Jum’at yang pertama kali beliau selenggarakan di kota Madinah di kawasan pemukiman Bani Salim bin ‘Auf:

“Segala puji bagi Alah. Aku memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya.

Aku mohon ampunan dan hidayah kepada-Nya. Aku beriman kepada-Nya dan tidak kufur terhadap-Nya.

Aku senantiasa memusuhi orang yang kufur terhadapNya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah semata-mata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Allah telah mengutusnya dengan membawa petunjuk, cahaya, dan nasihat, pada masa ketika pengiriman para rasul sedang terputus, ilmu agama amat sedikit, kesesatan merebak di kalangan manusia, zaman akan berakhir, hari kiamat sudah dekat, umur dunia sudah hampir habis.

Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia berada di jalan kebenaran, dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia telah keliru, lalai, dan ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

Aku berpesan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya nasihat terbaik seorang muslim kepada muslim lainnya adalah dengan mendorongnya kepada amal-amal akhirat, dan menyuruhnya agar bertakwa kepada Allah.

Maka jagalah diri kalian dari perkara yang telah diperingatkan oleh Allah kepada kalian dengan siksa-Nya.

Tidak ada nasihat yang lebih utama daripada nasihat takwa, dan tidak ada kemasyhuran yang lebih utama daripada dikenal sebagai orang yang bertakwa.

Bagi orang yang bertakwa dengan rasa takut kepada Tuhannya, takwanya itu merupakan pertolongan terbaik dalam mencari kebahagiaan hidup di akhirat.

Barangsiapa menjaga urusan antara ia dan Allah, baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan, dan ia tidak berniat dengan hal itu kecuali mengharapkan ridha Allah, maka hal itu akan membuatnya dikenang sewaktu di dunia dan akan menjadi simpanan kebaikan baginya sesudah mati, ketika seseorang memerlukan amal yang telah ia perbuat.

Sedangkan siapa pun yang berbuat selain takwa, maka ia ingin kalau sekiranya antara ia dengan perbuatannya itu ada masa yang jauh.

error: Allahu Akbar