BAIHAQI meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallâhu anhumå, ia berkata: Ketika menyampaikan khutbah untuk pertama kalinya di Madinah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdiri di hadapan orang-orang, lalu membaca tahmid dan tsanâ kepada Allah yang pantas untuk-Nya.
Kemudian beliau bersabda, “Amma ba’du, hadirin sekalian! Kerjakanlah amal baik untuk diri kalian sendiri.
Demi Allah! Ketahuilah bahwa seseorang darí kalian akan mati, sementara ia meninggalkan kambingnya tanpa ada yang menggembalakannya.
Kemudian kelak Tuhannya akan berkata kepadanya, sedangkan tidak ada penerjemah bagi-Nya dan tidak ada pula penjaga pintu yang menghalangi dari-Nya: “Bukankah Rasul-Ku telah datang kepadamu lalu menyampaikan agama kepadamu, dan Aku telah memberikan harta serta karunia yang banyak kepadamu?
Lalu apa yang telah kamu lakukan untuk dirimu sendiri?’
Maka orang itu melihat ke arah kanan dan kiri, namun ia tidak melihat sesuatu.
Kemudian ia melihat di hadapannya, namun ia tidak melihat apa-apa selain neraka Jahannam.
Oleh karena itu, barangsiapa bisa melindungi wajahnya dari api neraka, meski hanya dengan bersedekah separuh biji kurma, hendaklah ia melakukannya!
Dan barangsiapa tidak memiliki sesuatu untuk disedekahkan, maka cukuplah dengan bertutur kata yang baik, karena setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh sarnpai tujuh ratus kali lipat.
Semoga kesejahteraan, rahmat Allah, dan barakahnya tetap ke atas Rasulullah shollallàhu ‘alaihi wasallam.
Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan khutbah sekali lagi.
Beliau bersabda, “Sesungguhrya segala puji bagi Allah. Aku memujiNya dan memohon pertolongan kepada-Nya.
Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan dari amal-amal kami yang buruk.
Barangsiapa Allah beri petunjuk, maka tak ada orang yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Dia sesatkan, maka tak ada orang yang akan memberi petunjuk kepadanya.
Aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah semata-mata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah Kitabullah.
Sesungguhnya beruntunglah orang yang Allah jadikan Kitab-Nya terasa indah didalam hatinya, memasukkannya di dalam Islam setelah berada dalam kekufuran, dan
memilih Kitabullah daripada perkataan-perkataan lain oleh manusia.






