1. Keutamaan Para Ahli Majelis Zikir pada Hari Kiamat
AHMAD, Abu Ya’la, ibnu Hibban dalan kitab Shahih-nya, Baihaqi dan yang lainnya meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallâhu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalakộhu alaihi wasallam bersabda: Allah ‘azza wajalla akan berfirman pada hari kiamat, “Semua yang berkumpul akan mengetahui siapakah yang berhak mendapatkan kehormatan”
Maka ada yang berkata, “Siapakah yang berhak mendapatkan kehormatan itu, wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda, “Para ahli majels zikir” (Demikian dalam kitab At-Targhib wat-Tarhib (3/63).
[Haitsami (10/76) berkata: Diriwayatkan oleh Ahmad dengan dua sanad, salah satu sanadnya hasan, juga oleh Abu Ya’la].
2 Kisah Pasukan yang Dikirim oleh Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam dan Sikap Beliau yang Lebih Mengutamakan Ahli zikir dari Mereka
lBNJ ZANJAWAIH meriwayatkan beserta sanadnya dan Tirmidzi dari Umar radhiyaláhu ‘anhu bahwa suatu ketika Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam mengirim pasukan menuju Nejd.
Mereka pun mendapatkan ghanimah yang banyak, dan kembali dalam waktu yang singkat.
Lalu, salah seorang yang tidak ikut keluar bersama mereka berkata, “Kami belum pernah melihat pasukan yang kembali lebih cepat dan mendapatkan ghanimah yang lebih besar dari pada pasukan ini!”
Maka Nabi shallallôhu alaihi wasallam bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan tentang orang-orang yang lebih besar ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya?
Yaitu orang-orang yang mengikuti jamaah Shalat Subuh, kemudian mereka duduk di tempat mereka berzikir kepada Allah hingga terbit matahari.
Mereka itu lebih cepat kembalinya dan lebih besar ghanimahnya.”
Dalam lafal yang lain disebutkan (sabda beliau), “Yaitu orang-orang yang mengerjakan Shalat Subuh, kemudian duduk di tempat mereka berzikir kepada Allah hingga terbit matahari, kemudian mengerjakan shalat nafil dua rakaat, kemudian mereka pulang kepada keluarga mereka.
Mereka itu lebih cepat kembalinya, dan lebih besar ghanimahya daripada pasukan tersebut.”
[Tirmidzi berkata: Hadis gharlb. Kami tidak mengetahuinya kecuali dari rangkaian sanad ini.
Dalam sanadnya terdapat Hammad bin Abu Humaid, dha’if. – Demikian dalam kitab Kanzul-“Ummâl (1/298).
Dirlwayatkan pula beserta sanadnya oleh Bazzar dari Abu Hurairah radhiyallähu ‘anhu dengan lafal yang semakna.
Dalam riwayatnya itu disebutkan: Lalu, Abu Bakar radhiyalahu anhu berkata, “Wahai, Rasulullah! Kami belum pernah melihat pasukan…..
Haitsami (10/107) berkata: Dalam sanadnya terdapat Humaid-bekas budak ibnu ‘Alqamah-, seorang rawi yang dha’if].
3. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Duduk Dalam Satu Majelis yang Dihadiri oleh Ibnu Rawahah Radhiyallahu ‘Anhu dan Sabda Beliau Kepada Mereka
THABRANI meriwayatikan beserta sanadnya dalam kitab A-Mu’jamush-Shaghir dan ibnu ‘Abbas radhiyalláhu anhuma, ia berkata: Suatu ketika Nabi shallallahu ‘allaihi wasallam lewat di hadapan Abdullah bin Rawahah ketika ia sedang menyampaikan mauizah kepada kawan-kawannya.
Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh, kallan adalah orang-orang yang Allah telah perintahkan aku untuk bersabar menyertai kalian.”
Kemudian, beliau membaca ayat ini : “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaanNya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28).
Lanjut beliau, “Sesungguhnya, jika ada majelis seperti kalian, sebanyak jumlah mereka yang duduk, sebanyak itu pula para malaikat duduk bersama mereka.
Jika mereka bertasbih menyucikan Allah, maka para malaikat pun bertasbih. Jika mereka bertahmid memuji Allah ta’ilâ, para malaikat pun bertahmid. Dan jika mereka bertakbir membesarkan Allah, para malaikat pun bertakbir.
Kemudian, para malaikat itu naik menghadap Allah jalla tsanâ uh -sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka-. Lalu, mereka berkata, Wahai, Tuhan kami! Hamba-hambamu bertasbih menyucikanMu, maka kami pun bertasbih. Mereka bertakbir membesarkanMu, maka kami pun bertakbir. Dan mereka bertahmid memujiMu maka kami pun bertahmid.
Lalu, Allah berfirman, ‘Wahai Malaikat-Malaikatku! Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka’
Para Malaikat berkata, ‘Diantara mereka ada Fulan dan Fulan yang banyak dosa.’
Dia berfirman, ‘Mereka adalah para ahli majelis (yang sejati). Tidak akan celaka orang yang duduk bersama mereka.”
[Haitsami (10/76) berkata: Dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Hammad AI-Kufi, seorang rawi yang dha’if].
4. Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam Duduk Bersama Suatu Majelis yang Dihadiri oleh Salman Radhiyallâhu ‘Anhu dan Sabda Beliau Kepada Mereka
ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliyâ” (4/342) dari Tsabit A|-Bunani, ia berkata: Ketika Salman radhiyallâhu ‘anhu sedang bersama sekelompok orang yang berzikir kepada Allah ‘azza wajalla, lewatlah Nabi shallallâhu alaihi wasallam.
Maka mereka pun berhenti berzikir. Lalu, beliau bertanya, “Apa yang kalian ucapkan tadi?”
Kami menjawab, “Kami berzikir kepada Allah, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda, “Teruskanlah! Karena tadi aku melihat rahmat Allah turun kepada kalian. Maka aku juga ingin mendapatkan rahmat itu bersama kalian,”
Kemudian, beliau mengucapkan, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di kalangan umatku orang-orang yang aku diperintahkan untuk menyabarkan diri bersama mereka.
5. Duduk Nabi Shallalláhu ‘Alaihi Wasallam dalam Suatu Majelis Zikir dan Sabda Beliau Kepada Orang-orang yang Mengikutinya, “Makanlah Kalian Dengan Leluasa di Taman-taman Surga”
IBNU ABID-DUNYA, Abu Ya’la, Bazzar, Thabarani, Al-Hakim -dan ia mensahihkannya-dan Baihaqi, meriwayatkan beserta sanadnya dari Jabir radhiyallôhu ‘anhu, ia berkata: Suatu ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam datang kepada kami, lalu beliau bersabda, “Hadirin, sekalian! Sesungguhnya, Allah memiliki kesatuan-kesatuan regu malaikat yang turun dan berhenti pada majelis-majelis zikir di muka bumi. Maka kalian makanlah dengan leluasa di taman-taman Surga!”
Para sahabat radhiyallâhu ‘anhum bertanya, “Di manakah taman-taman Surga itu?”
Beliau bersabda, “yaitu majelis-majelis zikir. Maka hendaklah kalian selalu dalam keadaan mengingat Allah baik pada pagi maupun sore hari, dan ingatlah kalian selalu kepada Allah!
Barangsiapa ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah maka hendaklah ia melihat bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya, karena Allah menempatkan seorang hamba pada sisiNya sekira ia menempatkan Allah dalam dirinya.”
[Mundziri berkata dalam kitab At-Targhib Wat-Tarhib: Dalam semua sanad mereka terdapat Umar bekas budak Ghufrah -pembahasan tentang ia akan disebutkan pada bagian selanjutnya.
Sedangkan para rawi yang lain adalah tsiqah, masyhur dan periwayatan mereka diterima. Dan hadis tersebut hasan).
[Haitsami (10/77) berkata: Dalam sanadnya terdapat Umar bin Abdullah bekas budak Ghufrah, dinyatakan tsiqah oleh lebih dari satu muhaddits, namun dinyatakan dha’if oleh beberapa muhaddits. Sedangkan para rawi yang lain adalah perawi Kitab Shahih].
Thabarani meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Al-Mu jamush-Shaghir dari Jabir bin Samurah radhiyallôhu (anhu, bahwa apabila Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam selesai mengerjakan Shalat Subuh, bellau biasanya duduk berzikir kepada Allah hingga terbit matahari.
[Haitsami (10/107) berkata: Para perawinya tsiqah. Hadis tersebut disebutkan dalam kitab Shahih selain sabda beliau: berzikir kepada Allah].
6. Sabda Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam Tentang Ghanimah Majelis Zikir dan Perkataan Ibnu Mas’ud Radhiyallâhu ‘Anhu Tentang Majelis Zikir
AHMAD meriwayatkan beserta sanadnya dan Thabarani dari Abdullah bin ‘Amr rodhiyallôhu anhumů, ia berkata: Aku pernah bertanya, “Wahai, Rasulullah. Apakah ghanimah majelis zikir?”
Beliau bersabda, “Ghanimah majelis zikir adalah Surga.”
Sanad pada riwayat Ahmad adalah hasan, -sebagaimana dikatakan oleh Haitsami (10/78) dan Mundziri (3/65).
Ibnu Asakir meriwayatkan beserta sanadnya dari ibnu Mas’ud radhiyalahu ‘anhu, ia berkata, “Majelis zikir adalah sebab hidupnya ilmu, dan dapat menghadirkan kekhusyukan di dalam hati. [Demikian dalam kitab Kanzul-Ummál (1/208)].






