Kemudian beliau membaca ayat: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)
“ingatlah! Janganlah kalian kembali menjadi (seperti) orang-orang kafir sepeninggalku nanti dengan saling memenggal leher. Ingatlah! Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang yang mengerjakan shalat, akan tetapi ia cukup puas dengan mengadu domba di antara kalian. Maka takutlah kalian kepada Allah ‘azza wajalla mengenai urusan istri-istri kalian, karena mereka bagaikan tawanan bagi kalian.
Mereka tidak berhak sedikit pun atas diri mereka sendiri. Sesungguhnya mereka memiliki hak atas kalian dan kalian pun memiliki hak atas mereka. Hak kalian atas mereka adalah bahwa mereka tidak boleh membiarkan orang lain berada di atas tempat tidur kalian, tidak boleh pula mengizinkan orang yang kalian benci untuk masuk ke dalam rumah-rumah kalian.
Lalu jika kalian khawatir akan sikap nusyuz dari mereka, maka nasihatilah mereka, berpisah ranjanglah dengan mereka, dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Sedangkan mereka mempunyai hak untuk diberi makan dan pakaian dengan cara yang makruf.
Sesungguhnya kalian telah mengambil mereka (sebagai istri) dengan amanah Allah, dan kalian pun menghalalkan kehormatan mereka (sebagai suami-istri) dengan kalimat Allah ‘azza wajalla. Barangsiapa mengemban amanah, hendaklah ia menunaikannya kepada orang yang mempercayakan amanah itu kepadanya!”
Beliau pun mengulurkan kedua tangannya, lalu bersabda, “Ingatlah! Sudahkah aku menyampaikan (risalah dari Allah)! Ingatlah! Sudahkah aku menyampaikan (risalah dari Allah)!”
Kemudian beliau bersabda, “Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena adakalanya orang yang disampaikan nanti lebih beruntung (lebih paham) daripada yang mendengar langsung.”
Humaid (seorang rawi) berkata: Hasan (Bashri) berkata ketika sampai pada kata ini, “Demi Allah, mereka telah menyampaikan kepada orang-orang yang lebih paham dengannya.”
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Bazzar dari lbnu Umar radhiyallâhu ‘anhumâ dengan lafal yang semakna, dan menambahkan pada bagian awalnya, ia berkata: Surat ini turun kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam ketika di Mina pada tengah hari di hari Tasyriq dalam kesempatan haji Wada’: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” (QS. An-Nashr: 1)
Beliau memahami bahwa haji itu adalah haji perpisahan (wada’).
Maka beliau menyuruh agar unta tunggangannya yang bernama Qashwa’ dipasangi pelana. Kemudian beliau naik ke atasnya, lalu berhenti menunggu berkumpulnya orang-orang di ‘Aqabah. Setelah berkumpul di hadapan beliau sekian banyak kaum muslimin atas kehendak Allah.






