1. Khutbah Nabi SAW. Mengenai Syukur
ABDULLAH bin Ahmad, Bazzar dan Thabarani meriwayatkan beserta sanadnya dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diatas tiang-tiang ini, atau: di atas mimbar ini, “Barangsiapa tidak bersyukur atas nikmat yang sedikit, maka ia tidak akan bisa mensyukuri nikmat yang banyak.
Barangsiapa tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah ‘azza wajalla.
Menyebut-nyebut nikmat Allah berarti syukur, dan meninggalkannya berarti kufur. Persatuan itu rahmat, dan perpecahan itu azab.”
Nu’man bin Basyir berkata: Lalu Abu Umamah Al-Bahili berkata, “Hendaklah kalian menyertai As-Sawâdul-A’zham (kelompok terbesar kaum muslimin)!”
Nu’man berkata: Lalu seseorang bertanya, “Apa maksud As-Sawêdul-A’zham?”
Maka Abu Umamah menyeru dengan ayat yang terdapat di dalam surat An-Nur:
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِلَ وَعَلَيْكُمْ مَا جُمِلْتُمْ ﴾ (النور: ٥٤)
“Dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu.” (QS. An-Nûr: 54)
Ibnu Najjar meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan khutbah, aku pernah mendengar beliau membaca ayat ini:
اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ ﴾ (سبا: ١٣)
“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba: 13).
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa diberi tiga perkara, berarti ia telah diberi seperti apa yang diberikan kepada Dawud:
(1) Takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan,
(2) bersikap adil ketika marah maupun rida, dan
(3) hidup sederhana ketika dalam keadaan fakir maupun kaya.”
[Demikian dalam Kitab Kanzul-‘Ummål (8/226)].






