Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah! Tambahkanlah nasihat untukku.”
Beliau bersabda, “Hendaklah keburukan yang ada pada dirimu dapat mencegahmu dari membicarakan keburukan orang lain. Janganlah kamu marah kepada orang lain karena keburukan mereka, yang kamu sendiri juga melakukannya.
Dan cukuplah dianggap sebagai aib bagimu, apabila kamu mengetahui keburukan orang lain sedangkan kamu tidak mengetahui keburukanmu sendiri, dan apabia kamu marah kepada orang lain karena keburukan mereka, sedangkan kamu sendiri juga melakukannya.”
Kemudian beliau menepuk dadaku dengan tangan beliau, lalu bersabda : “Hai Abu Dzar! Tidak ada kecerdikan yang dapat menandingi pengaturan yang baik.
Tidak ada sikap wara’ yang dapat menandingi sikap menahan diri (dari perkara yang syubhat).
Dan tidak ada kemuliaan yang dapat menandingi budi pekerti yang baik.”
[Mundziri berkata dalam kitab At-Targhib wat- Targhib (3/473): Ibrahim bin Hisyam bin Yahya Al-Ghassani bersendiri dalam meriwayatkan hadits ini dari ayahnya.
Ini adalah hadits yang panjang. Pada bagian awalnya disebutkan tentang para anbiya ‘alaihimus-salam.
Saya menukilkan penggalan riwayat ini dari hadits tersebut, karena di dalamnya terkandung hikmah-hikmah yang agung serta nasihat-nasihat yang sarat makna].
Hadits ini secara lengkap telah diriwayatkan beserta sanadnya oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul-Auliyà’ (1/166) dari jalur sanad Ibrahim bin Hisyam.





