Ketika melihat keinginan kuat Nabi saw. tersebut, berkatalah Abu Thalib: “Hai keponakanku, demi Allah! Kalau bukan karena khawatir terhadap celaan yang akan menimpamu dan juga anak keturunan ayahmu sepeninggalku nanti, dan juga khawatir bahwa Kabilah Quraisy mengira bahwasanya aku mengucapkan kalimat itu hanya karena takut mati, tentu aku telah mengucapkannya. Aku tidak akan mengucapkannya kecuali sekedar untuk menyenangkanmu.”
Lalu Perawi meneruskan haditsnya [Dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang tidak jelas dan tidak diketahui keterangan mengenainya].






