1. Sopan Santun Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Dalam Memandang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
TIRMIDZI meriwayatkan beserta sanadnya dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa keluar menjumpai para sahabatnya, orang-orang Muhajirin dan Ansar, ketika mereka sedang duduk.
Di antara mereka ada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Tidak seorang pun di antara mereka yang mengarahkan pandangan matanya kepada beliau kecuali Abu Bakar dan Umar.
Keduanya memandang beliau dan beliau pun memandang mereka, keduanya tersenyum kepadanya dan beliau pun tersenyum kepada mereka.
(Demikian dalam kitab asy-Sifa oleh Qadhi ‘lyadh).
2. Cara Duduk Para Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di Sekitar Beliau
THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dan ibnu Hiban dalam kitab Shahih-nya dari Usamah bin Syarik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika itu kami sedang duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seakan-akan diatas kepala kami ada burung.
Tidak ada seorang pun diantara kami yang berbicara. Tiba-tiba beberapa orang datang kepada bellau, lalu mereka bertanya, “Siapakah orang-orang yang paling dicintai oleh Allah ta’ala?”
Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya diantara mereka.”
[Demikian dalam Kitab at Targhib wat Tarhib (4/197). Mundziri berkata: Para perawi Thabrani diterima riwayat mereka dalam kitab Shahih].
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh al.Arba’ah dan dishahihkan oleh Tirmidzi dari Usamah bin Syarik radhiyallahu anhu, ia berkata: Aku pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ketika itu para sahabatnya berada di sekitar beliau seakan-akan di atas kepala mereka ada burung. (Demikian dalam kitab Tarjumanus-Sunnah (1/367)).
3. Kewibawaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang Dirasakan Bara’ bin ‘Azib Radhiyallahu ‘Anhu
ABU YA’LA meriwayatkan beserta sanadnya dan ia mensahihkannya dari Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Sungguh, dulu aku pernah ingin bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai suatu persoalan namun aku menundanya selama dua tahun karena kewibawaan beliau yang aku rasakan.




