Namun beliau tidak mendapatkan naungan hingga sampai tempat Abu Thalib.
Abu Thalib berkata kepada beliau, “Hai keponakankut Demi Allah! Sepengetahuanku, dulu kamu begitu taat kepadaku.
Namun kini, kaummu telah datang dan berkata bahwa kamu mendatangi mereka di dekat ka’bah dan di dalam perkumpulan mereka, membuat mereka terganggu.
Jika sekarang kamu berpikiran untuk menghentikan gangguanmu terhadap mereka tentu lebih baik.”
Maka Rasulullah SAW. mengangkat pandangan matanya ke langit, lalu bersabda, “Demi Allah! Aku tidak sanggup meninggalkan apa yang telah ditugaskan kepadaku seperti halnya salah seorang diantara kalian juga tidak sanggup menyalakan sebuah obor dari matahari.”
Abu Thalib berkata, “Demi Allah! Keponakanku tidak pernah berdusta sama sekali. Pulanglah kalian dengan bijaksana.”
[Haltsami (6/14) berkata: Diriwayatkan oleh Thabarani, dan oleh Abu Ya’la secara agak ringkas pada bagian awalnya. Para perawi dalam sanad Abu Ya’la adalah perawi kitab Shahih].
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Bukhari dalam kitab At-Tarikhul-Kabir dengan lafal yang sebagian besarnya sama, sebagaimana dalam kitab Al-Bidayah (3/42).
Menurut riwayat Baihaqi disebutkan bahwa Abu Thalib berkata kepada Nabi SAW., “Hai keponakanku! Kaummu telah datang kepadaku dan berkata begini-begini…, maka kasihanilah diriku dan juga dirimu sendiri. Dan janganlah kamu membebaniku dengan perkara yang aku dan juga kamu tidak sanggup memikulnya. Maka berhentilah kamu mengganggu kaummu dengan perkataanmu yang tidak mereka sukai.”
Rasulullah SAW. berpikir bahwa pamannya telah berubah pikiran, yakni hendak menghentikan dukungannya dan menyerahkannya kepada orang-orang Quraisy, dan tidak sanggup lagi berdiri di pihaknya.






