8. Safinah Radhiyallahu ‘Anhu Meminum Darah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dari Safinah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam, lalu beliau bersabda, “Ambillah darah ini, lalu timbunlah agar terhindar dari jangkauan hewan, burung, dan manusia.”
Lalu, aku pun pergi dan meminumnya. Kemudian, aku menceritakan hal itu kepada beliau dan beliau pun tertawa. (Haitsami (8/270) berkata: Para perawi Thabarani tsiqah).
9. Kisah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Malik bin Sinan Radhiyallahu ‘Anhu Pasa Peristiwa Perang Uhud dan Sabda Beliau Mengenainya
THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab al-Mu’jamul-Ausath dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu, bahwa pada peristiwa perang Uhud, setelah wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terluka, ayah Abu Sa’id-yakninMalik bin Sinan radhiyallahu ‘anhu- menghisap dan menelan darah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Lalu, ia ditanya, “Apakah kamu meminum darah?”
la menjawab, “Ya, aku meminum darah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Darahku telah bercampur dengan darahnya, maka api neraka tidak akan menyentuhnya.”
[Haitsami (8/270) berkata: Dalam sanadnya aku tidak menemukan rawi yang disepakati sebagai rawi yang dha’if].
10. Hadits Ummu Hakim binti Umaimah Bahwa Seseorang Telah Meminum Air Seni Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dari Hakim binti Umaimah dari ibunya, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai sebuah mangkuk kayu untuk menampung air seninya. Beliau meletakkannya di bawah tempat tidur.
Suatu hari, beliau bangun tidur, lalu mencarinya, namun tidak menemukannya.
Kemudian, beliau bertanya, “Di manakah mangkuk itu?” Orang-orang rumah menjawab, “Telah diminum oleh Surrah, pelayan Ummu Salamah yang telah ia bawa dari tanah Habasyah.”
Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh, ia telah melindungi dirinya dari api neraka dengan pagar yang kokoh.”




