Orang-orang kaya merasa senang untuk mengerjakan kebaikan dengan mengharapkan agar mendapatkan kebaikan pula darinya.
Sementara orang-orang yang tidak sekaya mereka dan lebih lemah daripada mereka akan menjadi kuat.
Sampai ada seorang lelaki yang datang dengan membawa seekor unta kepada satu atau dua orang, lalu berkata, “Unta ini untuk kalian berdua, kalian bisa menaikinya secara bergiliran.”
Ada pula orang yang membawa hartanya dan memberikannya kepada orang yang akan berangkat. Bahkan para wanita juga ikut membantu sekadar kesanggupan mereka.
Ummu Sinan Al-Aslamiyyah RHa. berkata, “Aku telah melihat sehelai kain dibentangkan di hadapan Nabi SAW. di rumah Aisyah RHa.
Di dalamnya terdapat gelang tangan, gelang lengan atas, gelang kaki, anting-anting dan cincin, hingga penuhlah kain tersebut.
Semua itu dikirimkan oleh para wanita untuk membantu persiapan pasukan kaum muslimin.”
Sedangkan pada masa itu, orang-orang dalam keadaan sangat sulit, buah-buahan sedang matang, dan naungan di bawah pohon merupakan hal yang sangat disukai. Karena itu, banyak dari mereka yang lebih suka tinggal di kampung halaman dan enggan untuk berangkat perang dalam keadaan dan musim seperti itu.
Rasulullah SAW. mulai bergerak cepat dan bersungguh-sungguh untuk berangkat. Rasulullah SAW. memasang kamp di Tsaniyyatul-Wadd’, sedangkan jumlah mereka sangat banyak, tidak tercatat secara terperinci. Siapa pun yang ingin meninggalkan barisan, pasti ia mengira tidak akan diketahui oleh Nabi SAW., selama tidak turun wahyu mengenal dirinya dari Allah.
Setelah Rasulullah SAW. merasa mantap untuk melanjutkan perjalanan dan membulatkan tekad untuk berangkat, beliau mengangkat Siba’ bin ‘Urfuthah Al-Ghifari -ada yang mengatakan: Muhammad bin Maslamah- sebagai pimpinan sementara di kota Madinah.
Lalu Rasulullah SAW. bersabda, “Sering-seringlah memakai sandal, karena seseorang dianggap masih berkendaraan selama ia memakai sandal.”
Ketika Rasulullah SAW. mulai bergerak, Ibnu Ubay pulang bersama orang-orang munafik lainnya.
Ia berkata, “Muhammad telah memerangi bangsa Romawi ketika keadaan sedang sulit, cuaca amat panas, menuju negeri yang jauh, untuk menghadapi pasukan yang tidak mampu ia hadapi. Muhammad mengira bahwa perang melawan bangsa Romawi merupakan gurauan semata-mata.”






