Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Muslim (2/256), Abu Nu’aim dalam kitab Dalo ilun-Nubuwwah secara ringkas, Abdurrazaq, ‘Abd bin Humaid, dan al-Hakim dengan lafal yang sebagian besarnya sama dengan hadits Ahmad sebagaimana dalam kitab Kanzul-‘Ummal (4/47)).
Menurut riwayat Tirmidzi dalam kitab asy-Syama’ilul Muhammadiyyah (hal. 25) dari ‘Aisyah, ia berkata: Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membela diri dari kezaliman yang dilakukan terhadapnya sama sekali, selama tidak dilanggar salah satu larangan Allah ta’ala.
Apabila salah satu larangan Allah ta’ala telah dilanggar, beliau adalah orang yang paling marah terhadapnya.
Saat beliau diberikan pilihan antara dua perkara, maka beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya selama bukan merupakan dosa.
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Abu Yala dan al-Hakim, -sebagaimana dalam kitab Kanzul-Ummal (4/47).
7. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Tikak Pernah Berkata Keji, Berteriak, Mencela ataupun Melaknat Orang Tertentu
ABU DAWUD Thayalisi meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Abdillah al-Jadali, ia berkata: Ketika aku bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku mendengar ia berkata, “Beliau bukanlah orang yang suka berkata keji -baik disengaja ataupun tidak- tidak pula tukang teriak di pasar-pasar, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan, akan tetapi memaafkan dan mentolerir-atau ia berkata: Memaafkan dan mengampuni.” (Abu Dawud ragu-ragu).
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan ia berkata: Hadis hasan shahih. (Demikian dalam kitab Al-Bidayah Wan-Nihayah (6/36)).
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh ibnu Sa’d (1/90) dari Abu Abdillah dari ‘Aisyah dengan lafal yang sebagian besarnya sama, Ahmad dan al-Hakim sebagaimana dalam kitab Kanzul-‘Ummál (4/47).
Menurut riwayat Ya’qub bin Sufyan dari Shalih, bekas budak Tau’amah, ia berkata: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah menggambarkan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berkata, “Beliau selalu menghadap semuanya dan berbalik semuanya.
Saya rela mengorbankan ayah dan ibuku demi beliau, beliau bukan orang yang suka berkata keji, baik disengaja maupun tidak, bukan pula tukang teriak di pasar-pasar.”




