Demi Allah, Umar tidak mencaci ataupun melaknatnya.
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh ibnu Busyran dalam kitabnya: al-Amáli,-sebagaimana dalam kitab Muntakhab Kanzil-Ummál (4/400).
Imam Bukhari, ibnul-Mundzir, ibnu Abi Hatim, ibnu Mardawaih, dan Baihaqi meriwayatkan beserta sanadnya dari ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: ‘Uyainah bin Hishn (bin Hudzaifah) bin Badar radhiyallahu ‘anhu datang dan singgah di rumah keponakannya Hurr bin Qais radhiyallahu ‘anhu. (Hurr bin Qais termasuk orang-orang dekat Umar radhiyallahu ‘anhu. Para peserta majelis dan musyawarah Umar terdiri dari para ulama, baik tua maupun muda).
Lalu, ‘Uyainah berkata kepada keponakannya itu, “Wahai, keponakanku! Kamu termasuk orang
yang diperhitungkan oleh Amirul mukminin. Maka mintakanlah izin untukku agar bertemu dengannya.”
Kemudian, Hurr memintakan izin untuknya, maka (Umar) mengizinkannya. Ketika datang menemuinya ia berkata, “Heh! ibnul Khattab! Demi Allah! Kamu tidak memberi tunjangan yang banyak kepada kami, tidak pula menjalankan pemerintahan secara adil di antara kami.”
Maka marahlah Umar hingga ingin memukulnya, Lalu, Hurr berkata, “Wahal, Amirul mukminin! Sesungguhnya, Allah ta’ala telah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raf: 199). Sedang orang ini termasuk orang-orang bodoh.”
Demi Allah, Umar tidak meneruskan keinginannya itu ketika aku bacakan ayat itu kepadanya, la selalu berhenti di hadapan hukum-hukum Kitabullah ‘azza wajalla. [Demikian dalam kitab Muntakhab Kanzil-Ummál (4/416)].
Menurut riwayat ibnu Sa’d dari ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku melihat Umar ketika marah lalu disebutkan nama Allah kepadanya atau ditakut-takuti, atau ada orang yang membacakan ayat Alquran di hadapannya, pastilah la melupakan apa yang semula hendak ia lakukan.
Menurut riwayat Aslam, ia berkata: Bilal radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hai, Aslam. Bagaimana kalian menilai Umar?”
Aku berkata, “la orang yang baik. Namun, apabila ia marah, maka itu adalah urusan yang besar.”
Lalu, Bilal berkata, “Jika aku bersamanya, apabila ia marah, aku akan membacakan Alquran kepadanya hingga hilang kemarahannya.”






