Dari Malik ad-Dar, ia berkata: Pada suatu hari, Umar radhiyallahu ‘anhu berteriak kepadaku dan mengangkat cambuk ke arahku, lalu aku pun berkata, “Saya ingatkan engkau kepada Allah!”
Maka ia pun membuang cambuknya, lalu berkata, “Sungguh, kamu telah mengingatkanku dengan Zat yang Maha Besar.” (Demikian dalam kitab Muntakhab Kanzil-‘Ummál (4/413)).
6. Kebaikan Akhlak Mush’ab dan Abdullah Bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhuma
IBNU SA’D (3/82) meriwayatkan beserta sanadnya dari ‘Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Mush’ab bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu adalah teman baikku sejak hari pertama ia masuk Islam sampai ia gugur syahid di gunung Uhud.
Semoga Allah merahmatinya. la berangkat bersama kami dalam dua kali hijrah ke negeri Habasyah. Ia adalah teman perjalananku bersama orang-orang waktu itu. Aku tidak melihat seorang pun yang lebih baik akhlaknya ataupun lebih sedikit perselisihannya daripada Mush’ab.
Ibnu Sa’d (3/110) meriwayatkan beserta sanadnya dari Habbah bin Juwain, ia berkata: Ketika kami bersama Ali radhiyallahu ‘anhu, kami menyampaikan ucapan-ucapan Abdullah (bin Mas’ud) radhiyallahu ‘anhu.
Lalu, orang-orang pun memujinya, dengan berkata, “Wahai, Amirul Mukminin, kami tidak pernah melihat
orang yang lebih baik akhlaknya, ataupun lebih lembut dalam mengajar, ataupun lebih baik majelisnya, ataupun lebih saleh dari pada Abdullah bin Mas’ud.”
Lalu, Ali berkata, “Aku bertanya kepada kalian dengan nama Allah, apakah itu jujur dari lubuk hati kalian?”
Mereka berkata, “Ya.”
Lalu, ia berkata, “Ya, Allah. Aku persaksikan kepadamu. Ya, Allah. Sesungguhnya, aku mengatakan tentangnya sama seperti apa yang mereka katakan atau lebih baik.”
Dalam riwayat yang lain dari Habbah pula ada tambahan: la hafal Alquran, menghalalkan apa yang dihalalkan olehnya dan mengharamkan apa yang diharamkan olehnya, Alim tentang masalah agama, dan paham dengan sunah.
7. Kebaikan Akhlak Ibnu Umar dan Mu’adz Bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhum
ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliya’ (1/307) dari Zuhri dari Salim, ia berkata: ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma tidak pernah melaknat seorang pelayan pun kecuali hanya satu orang, lalu ia memerdekakannya.






