Kalau sekiranya aku tidak datang dan memandang wajahmu, aku kira nyawaku akan melayang.
Kemudian, aku ingat pula bahwasanya apabila nanti aku masuk surga, kedudukanku akan berada jauh di bawahmu.
Hal itu, tentu akan terasa berat bagiku. Aku ingin agar bisa bersamamu dalam satu derajat di surga.”
Atas ucapannya itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memberikan jawaban sedikitpun, lalu Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat: “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh.
Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. an Nisa: 69).
Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil orang itu dan membacakan ayat itu kepadanya.
[Haitsami (7/7) berkata: Diriwayatkan oleh Thabrani, dalam sanadnya terdapat ‘Atha’ bin Sa’ib, ingatannya telah kacau].
3. Kisah Seorang Sahabat yang Mempersiapkan Diri untuk Menghadapi Hari Kiamat dengan Kecintaan Kepada Allah dan Rasul-Nya
BUKHARI dan Muslim meriwayatkan beserta sanadnya dari Anas radhiyallohu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kapan akan terjadi hari kiamat.
Beliau balik bertanya, “Apa yang telah kamu Persiapkan untuk menghadapinya?”




