10 - AkhlakUpdate

Begini Sikap Santun dan Toleran Nabi SAW.

77
×

Begini Sikap Santun dan Toleran Nabi SAW.

Sebarkan artikel ini

Lalu, beliau memberikan baju gamis beliau kepadanya dan berkata, “Beritahu aku (jika sudah siap dishalati), aku akan menyalatinya.”

Kemudian, ia pun memberitahu beliau. Lalu, ketika beliau hendak menyalatinya, Umar menariknya lalu berkata, “Bukankan Allah telah melarangmu untuk menyalati orang-orang munafik?”

Lalu, beliau bersabda, “Aku mempunyai dua pilihan. Dia berfirman: “Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja).” (QS At-Taubah: 80).

Lalu, beliau menyalatinya. Maka turunlah ayat: “Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya, mereka telah kafir kepada Allah dan RasulNya, dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. at-Taubah: 84).

Menurut riwayat Ahmad dari Umar, ia berkata: Ketika Abdullah bin Ubay meninggal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diundang untuk menyalatinya.

Kemudian, beliau pun datang. Ketika beliau sudah berdiri di sampingnya untuk mendirikan shalat, aku bergegas berdiri di hadapan beliau. Aku pun berkata, “Wahai, Rasulullah! Apakah engkau ingin menyalati musuh Allah (Abdullah bin Ubay) orang yang berkata, hari anu begini begini…” (Umar pun menyebutkan
kelakuan buruk Abdullah bin Ubay).

Umar berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum. Akhirnya, ketika aku telah banyak berbicara, beliau bersabda, “Mundurlah dari hadapanku, wahai Umar. Aku diberi pilihan, lalu akupun memilih. Telah difirmankan kepadaku:”

“Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. at-Taubah: 80).

“Seandainya aku tahu bahwasanya jika aku menyalatinya sampai tujuh puluh kali dia akan diampuni, tentu aku akan menyalatinya lagi.”

Kemudian, beliau menyalatinya, berjalan mengiringinya dan berdiri di atas makamnya hingga penguburan selesai.

Umar berkata: Aku sendiri merasa heran atas keberanianku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.