Ali memerintahkan agar laki-laki itu dicari. Maka setelah dicari, akhirnya ia ditemukan dan didatangkan kepadanya, sehingga aku melihatnya persis seperti ciri-ciri yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (Demikian dalam kitab al-Bidayah wan-Nihayah (4/363)).
3. Sikap Santun Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam Kepada Umar Ketika Abdullah bin Ubay Meninggal
BUKHARI dan Muslim meriwayatkan beserta sanadnya dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa ketika Abdullah bin Ubay meninggal, datanglah anaknya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, “Berikanlah baju gamismu kepadaku untuk mengkafaninya, shalatilah la, dan mohonkanlah ampunan untuknya.
Lalu, beliau memberikan baju gamis beliau kepadanya dan berkata, “Beritahu aku (jika sudah siap dishalati), aku akan menyalatinya.”
Kemudian, ia pun memberitahu beliau. Lalu, ketika beliau hendak menyalatinya, Umar menariknya lalu berkata, “Bukankan Allah telah melarangmu untuk menyalati orang-orang munafik?”
Lalu, beliau bersabda, “Aku mempunyai dua pilihan. Dia berfirman: “Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja).” (QS At-Taubah: 80).
Lalu, beliau menyalatinya. Maka turunlah ayat: “Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya, mereka telah kafir kepada Allah dan RasulNya, dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. at-Taubah: 84).
Menurut riwayat Ahmad dari Umar, ia berkata: Ketika Abdullah bin Ubay meninggal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diundang untuk menyalatinya.
Kemudian, beliau pun datang. Ketika beliau sudah berdiri di sampingnya untuk mendirikan shalat, aku bergegas berdiri di hadapan beliau. Aku pun berkata, “Wahai, Rasulullah! Apakah engkau ingin menyalati musuh Allah (Abdullah bin Ubay) orang yang berkata, hari anu begini begini…” (Umar pun menyebutkan
kelakuan buruk Abdullah bin Ubay).
Umar berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum. Akhirnya, ketika aku telah banyak berbicara, beliau bersabda, “Mundurlah dari hadapanku, wahai Umar. Aku diberi pilihan, lalu akupun memilih. Telah difirmankan kepadaku:”
“Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. at-Taubah: 80).
“Seandainya aku tahu bahwasanya jika aku menyalatinya sampai tujuh puluh kali dia akan diampuni, tentu aku akan menyalatinya lagi.”
Kemudian, beliau menyalatinya, berjalan mengiringinya dan berdiri di atas makamnya hingga penguburan selesai.
Umar berkata: Aku sendiri merasa heran atas keberanianku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.
Umar berkata: Demà Allah, tidak lama kemudian, turunlah dua ayat ini: “Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya, mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. at-Taubah: 84).
Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lagi menyalati orang munafik, tidak pula berdiri di atas makamnya sampai Allah ‘azza wajalla memanggilnya.
Demikian ini diriwayatkan pula oleh Tirmidzi -dan ia berkata: Hadis hasan shahih. Diriwayatkan pula oleh Bukhari dengan lafal yang sama.
Menurut riwayat Ahmad dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Setelah Abdullah bin Ubay meninggal, anaknya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, “Wahai, Rasulullah. Jika engkau tidak datang kepadanya, kita akan terus dikritik dengan hal ini.”
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepadanya, namun beliau mendapatinya telah dimasukkan ke dalam liang kuburnya.
Lalu, beliau bersabda, “Tidakkah sebaiknya sebelum dimasukkan ke dalam liangnya?”











