11 - ImanUpdate

Kecintaan Para Sahabat Nabi SAW. Kepada Majelis-Majelis Iman

13
×

Kecintaan Para Sahabat Nabi SAW. Kepada Majelis-Majelis Iman

Sebarkan artikel ini

Thayalisi meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Suatu ketika Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu memegang tanganku, lalu berkata, “Mari kita beriman sesaat! Sesungguhnya, hati lebih cepat berbalik daripada periuk apabila bergolak karena mendidih.”

Menurut riwayat ibnu Asakir, ia berkata: Apabila Abdullah bin Rawahah bertemu denganku, ia biasa berkata kepadaku, “Hai, Uwaimir’, duduklah untuk bermuzakarah sesaat!”

Lalu, kami pun duduk bermuzakarah. Kemudian, ia berkata, “Ini adalah majelis iman. Iman itu seperti baju gamismu, adakalanya setelah kamu melepasnya, kamu memakainya lagi, dan setelah kamu memakainya, kamu melepasnya lagi.

Sesungguhnya, hati lebih cepat berbalik daripada periuk apabila bergolak karena mendidih.”

[Demikian dalam kitab Kanzul-Ummal (1/101)].

2. Kecintaan Umar dan Mu’adz Radhiyallahu ‘Anhuma Terhadap Majelis-majelis Iman

IBNU ABI SYAIBAH dan Lalikai meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab As-Sunnah dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Umar biasa memegang tangan salah seorang sahabatnya, lalu berkata, “Mari kita menambah iman kita.”

Merekapun berbicara tentang (kebesaran) Allah ‘azza wajalla.

[Demikian dalam kitab Kanzul-Ummál (10/207)].

Abu Nu’aim meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliya’ dari Aswad bin hilal, ia berkata: Ketika kami berjalan bersama Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ia berkata kepada kami, “Mari duduk bersama kami agar kita beriman sesaat.”

Memperbarui Iman

AHMAD dan Thabarani meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perbaruilah iman kalian.”

Ada yang bertanya, “Wahai, Rasulullah. Bagaimana cara kami memperbarui iman kami?”

Beliau bersabda, “Perbanyaklah mengucapkan La ilaha illallah.”

[Haitsami (10/82) berkata: Para perawi dalam riwayat Ahmad adalah tsigah.

Mundzini berkata dalam kitab At-Targhib wat-Tarhib: Sanad Ahmad hasan].