11 - ImanUpdate

Membohongkan Pengalaman di Alam Nyata dan yang Tampak, Meyakini Perkara yang Ghaib (2)

9
×

Membohongkan Pengalaman di Alam Nyata dan yang Tampak, Meyakini Perkara yang Ghaib (2)

Sebarkan artikel ini

6. Kisah tentang Sungai Nil pada Masa Kekhalifahan Umar Radhiyallahu ‘Anhu

AL-HAFIZ ABUL-QASIM LALIKA’I meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab As-Sunnah dari Qais bin Hajjaj dari orang yang menceritakan kepadanya, ia berkata: Setelah Mesir dapat ditaklukkan, para penduduknya datang menemui ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu yang menjadi gubernurnya.

ketika bulan Bu’nah” tiba, mereka berkata, “Wahai, gubernur! Sesungguhnya, Sungai Nil kita ini memiliki suatu tradisi ritual. Airnya tidak akan mengalir kecuali dengan menjalankan tradisi itu.”

‘Amr Bertanya, “Tradisi apakah itu?”

Mereka menjawab, “Apabila dua belas malam telah berlalu dari bulan ini, kami mencari seorang perawan yang tinggal bersama kedua orang tuanya. Setelah membujuk kedua orang tuanya, kami memakaikan perhiasan dan pakaian paling bagus untuknya. Kemudian, kami melemparkannya ke dalam sungai Nil.”

Maka ‘Amr berkata kepada mereka, “Ritual semacam ini tidak ada di dalam Islam. Sesungguhnya, Islam menghapuskan ritual-ritual yang ada sebelumnya.”

Kemudian, mereka pun melewati bulan Bu’nah, namun air sungai Nil tidak lagi mengalir, hingga akhirnya para penduduk bermaksud mengungsi.

Lalu, ‘Amr radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepada Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menyampaikan hal itu.

Maka Umar menulis surat balasan kepadanya, “Kamu telah melakukan sesuatu yang benar. Aku telah mengirim kepadamu sebuah kartu bersama suratku ini. Maka lemparkanlah kartu itu ke dalam sungai Nil.” -Lalu perawi melanjutkan hadisnya sebagaimana yang akan disebutkan pada bagian selanjutnya, dalam bab pertolongan gaib untuk menundukkan laut.

Pada bagian akhirnya disebutkan: Kemudian ‘Amr melemparkan kartu itu ke dalam sungai Nil.

Lalu, pada pagi hari Sabtu, Allah telah menjadikan air sungai Nil mengalir deras setinggi enam belas dzira’ dalam semalam. Allah telah menghentikan tradisi ritual penduduk Mesir tersebut sampai hari ini. -sebagaimana dalam kitab Tafsir ibnu Katsir (3/464).

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh ibnu ‘Asakir, Abusy-Syaikh dan yang lainnya.

7. ‘Ala’ Bin Hadhrami Radhiyallahu ‘Anhu Memimpin Pasukan Kaum Muslimin Melintasi Laut

ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliya’ (1/7) dari Sahm bin Minjab, ia berkata: Ketika kami turut berperang bersama ‘Ala’ bin Hadhrami radhiyallahu ‘anhu, tibalah kami pada sebuah pulau bernama Darin, sedangkan laut memisahkan kami dengan mereka (musuh).

Lalu, ‘Ala’ berdoa: “Wahai, yang Maha Mengetahui! Wahai, yang Maha Penyantun! Wahai, yang Mahatinggi! Wahai, yang Maha Agung! Sesungguhnya, kami adalah hamba-hambamu, sedang berada di jalanmu. Kami hendak memerangi musuh Mu. Maka, ya Allah, buatlah jalan bagi kami menuju ke tempat mereka.”

Lalu, ‘Ala’ memimpin kami mencebur ke laut, maka kami pun mencebur. Namun, air tidak mencapai kain alas pelana kami, hingga akhirnya kami sampai kepada mereka.