2. Kisah Dua Orang Sahabat Radhiyallahu ‘Anhuma Bersama Kedua Orangtua Mereka
BAIHAQI (9/27) meriwayatkan beserta sanadnya dari Malik bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu -yang telah mengalami zaman jahiliah- berkata: Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, “Ketika bertemu musuh, saya mendapati ayahku di antara mereka, maka aku mendengarnya mengatakan perkataan yang buruk terhadapmu.
Begitu mendengarnya, saya pun menjadi tidak sabar dan menikamnya dengan tombak -atau membunuhnya-.”
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diam. Kemudian, datang seseorang yang lain, lalu berkata, “Saya pun bertemu dengan ayahku (sebagai musuh dalam peperangan), dengan maksud agar ada orang lain yang membereskannya.” Maka beliaupun diam.
(Baihaqi berkata: Sanad hadis ini mursal jayyid).
3. Anak Abdullah bin Ubay Meminta Izin untuk Membunuh Ayahnya
BAZAR meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lewat di hadapan Abdullah bin Ubay saat ia berada di bawah naungan sebuah benteng, ia berkata, “Ibnu Abi Kabsyah’ telah membuat debu-debu beterbangan mengenai kita.”
Lalu, anaknya, yakni Abdullah bin Abdullah (bin Ubay) radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai, Rasulullah! Demi Zat yang telah memuliakanmu dengan kebenaran, jika engkau mau, sungguh aku akan membawakan kepalanya kepadamu.”
Lalu, beliau berkata, “Tidak, tetapi berbaktilah kamu kepada ayahmu dan bersikaplah baik kepadanya.”
(Haitsami (9/318) berkata: Diriwayatkan oleh Bazar dan para perawinya tsiqah).






