9 - Cinta

Para Sahabat Nabi Menanggung Segala Konsekuensi Demi untuk Menguatkan Islam, Bukti Cinta Allah dan Rasul

51
×

Para Sahabat Nabi Menanggung Segala Konsekuensi Demi untuk Menguatkan Islam, Bukti Cinta Allah dan Rasul

Sebarkan artikel ini

1. Abu ‘Ubaidah bin Jarrah Radhiyallahu ‘Anhu membunuh Ayahnya dalam Perang Badar

ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliya’ (1/101) dari ibnu Syaudzab, la berkata: Pada peristiwa perang Badar, ayah Abu ‘Ubaidah bin Jarrah menghadang anaknya, Abu ‘Ubaidah radhiyallahu ‘anhu, namun Abu ‘Ubaidah selalu menghindar darinya.

Lalu, ketika ayahnya semakin gencar menyerang, Abu ‘Ubaidah pun membalas serangan dan membunuhnya.

Atas peristiwa tersebut, Allah ta’ala menurunkan ayat: “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-
saudara ataupun keluarga mereka.

Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya.

Dan dimasukkanNya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.

Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) Nya. Mereka itulah golongan Allah.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. al-Mujadilah: 22).

Baihaqi (9/27) dan al-Hakim (3/265) meriwayatkan pula besert sanadnya dari Abdullah bin Syaudzab dengan lafal yang sebagian besarnya sama. (Baihaqi berkata: Sanad hadis ini mungathi)..

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Thabarani dengan sanad yang jayyid dari ibnu Syaudzab, dengan lafal yang sebagian besarnya sama, sebagaimana dalam kitab al-Ishâbah (2/253).

2. Kisah Dua Orang Sahabat Radhiyallahu ‘Anhuma Bersama Kedua Orangtua Mereka

BAIHAQI (9/27) meriwayatkan beserta sanadnya dari Malik bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu -yang telah mengalami zaman jahiliah- berkata: Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, “Ketika bertemu musuh, saya mendapati ayahku di antara mereka, maka aku mendengarnya mengatakan perkataan yang buruk terhadapmu.

Begitu mendengarnya, saya pun menjadi tidak sabar dan menikamnya dengan tombak -atau membunuhnya-.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diam. Kemudian, datang seseorang yang lain, lalu berkata, “Saya pun bertemu dengan ayahku (sebagai musuh dalam peperangan), dengan maksud agar ada orang lain yang membereskannya.” Maka beliaupun diam.

(Baihaqi berkata: Sanad hadis ini mursal jayyid).

3. Anak Abdullah bin Ubay Meminta Izin untuk Membunuh Ayahnya

BAZAR meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lewat di hadapan Abdullah bin Ubay saat ia berada di bawah naungan sebuah benteng, ia berkata, “Ibnu Abi Kabsyah’ telah membuat debu-debu beterbangan mengenai kita.”

Lalu, anaknya, yakni Abdullah bin Abdullah (bin Ubay) radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai, Rasulullah! Demi Zat yang telah memuliakanmu dengan kebenaran, jika engkau mau, sungguh aku akan membawakan kepalanya kepadamu.”

Lalu, beliau berkata, “Tidak, tetapi berbaktilah kamu kepada ayahmu dan bersikaplah baik kepadanya.”

(Haitsami (9/318) berkata: Diriwayatkan oleh Bazar dan para perawinya tsiqah).

error: Content is protected !!