Kemudian, ia turun dari unta tersebut, lalu berkata, “Hai, Nafi’! Lepaskanlah kekang dan sekedupnya.
Pasanglah tali pengikatnya, berilah tanda pada punuknya dan kumpulkanlah ia bersama unta-unta kurban.”
Dalam riwayat yang lain oleh Abu Nu’aim pula, dari Nafi’ ia berkata: Ketika Ibnu Umar mengendarai untanya, tiba-tiba muncullah rasa takjub terhadap unta itu.
Maka ia merundukkan untanya dengan berseru, “Eh, eh!” Setelah berhasil merundukkanya, ia berkata, “Hai, Nafi’! Lepaskanlah pelana dan tali kekangnya.”
Aku pun paham bahwa perintahnya itu mempunyai maksud yang ia inginkan.
Aku pun melepaskan pelana dan tali kekangnya.
Lalu, ibnu Umar berkata kepadaku, “Perhatikan, apakah barang muatannya itu cukup untuk membeli seekor unta yang lain?”
Aku berkata, “Sungguh, kalau mau, engkau bisa menjualnya, lalu dengan uang itu engkau bisa membeli unta yang lain.” Kemudian, ia pun memasang tali pada unta itu dengan mengalungkannya dan mengumpulkan unta itu bersama unta-unta kurban yang lain.
Apabila Ibnu Umar mengagumi salah satu dari harta miliknya, pasti ia akan mengorbankannya.
Menurut riwayat yang lain oleh Abu Nu’aim pula dari Nafi’, dari ibnu Umar, bahwasanya apabila ia merasa kagum terhadap salah satu dari harta bendanya, maka ia akan mengorbankannya untuk Allah ‘azza wajalla.






