1. Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Hendaklah Kalian Memiliki Lidah yang Selalu Berzikir.”
ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliya’ (1/182) dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, tiba-tiba orang-orang Muhajirin berkata, “Alangkah baiknya jika kita tahu harta mana yang paling baik, karena ayat Alquran mengenai emas dan perak telah turun.”
Lalu, Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Jika kalian setuju, aku akan menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Mereka berkata, “Ya, kami setuju.” Umar pun pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan aku cepat-cepat mengikutinya dengan naik unta.
(Sesampainya di sana), Umar berkata, “Wahai, Rasulullah, setelah turun ayat Alquran mengenai emas dan perak, orang-orang Muhajirin berkata: Alangkah baiknya jika kita tahu harta mana yang paling baik, karena ayat Alquran mengenai emas dan perak telah turun.”
Maka beliau bersabda, “Hendaklah kalian memiliki lidah yang selalu berzikir, hati yang selalu bersyukur, dan istri beriman yang membantu kalian atas keimanannya.”
Dalam riwayatnya yang lain dari Tsauban pula disebutkan, “Dan istri yang membantu kalian atas urusan akhirat.”
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Ahmad, Tirmidzi -ia meng-hasan-kannya-dan ibnu Majah dari Tsauban dengan lafal yang semakna.
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Abdur-Razzaq dari Ali radhiyallahu ‘anhu, mengenai firman Allah to’âlâ: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS. At-Taubah: 34).
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Binasalah emas! Binasalah perak!” Beliau bersabda sebanyak tiga kali.
Ali berkata: Hal itu, terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka pun berkata, “Lalu, harta apa yang sebaiknya kita miliki?”
Maka Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:….
Lalu perawi melanjutkan hadisnya dengan lafal yang sebagian besarnya sama secara ringkas,-sebagaimana dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir (2/351).





