6. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Memilih yang Paling Mudah Diantara Dua Perkara dan Membalas Karena Allah
MALIK meriwayatkan beserta sanadnya dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu, la berkata: Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberi pilihan di antara dua perkara, pasti beliau mengambil yang paling mudah di antara keduanya selama bukan merupakan dosa.
Apabila perkara itu merupakan dosa maka beliau adalah orang yang paling jauh menghindarinya.
Beliau tidak pernah membalas untuk membela dirinya sendiri, namun bila larangan Allah dilanggar, maka beliau membalasnya karena Allah.
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Bukhari dan Muslim, -sebagaimana dalam kitab al-Bidayah (6/36).
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Abu Dawud, Nasa’i dan Ahmad, -sebagaimana dalam kitab Kanzul-‘Ummal (4/47), juga oleh Abu Nu’aim dalam kitab Dala ilun-Nubuwwah (hal. 57).
Menurut riwayat Ahmad dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhâ, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memukul pelayan ataupun istri sama sekali
dengan tangannya.
Beliau tidak pernah pula memukul siapa pun dengan tangannya kecuali jika sedang berjihad di jalan Allah.
Apabila beliau diberikan pilihan antara dua perkara, pasti beliau lebih menyukai pilihan yang paling mudah kecuali jika merupakan dosa.
Maka apabila hal itu merupakan dosa, beliau adalah orang yang paling jauh dari dosa.
Beliau tidak pula membalas untuk dirinya sendiri atas sesuatu yang diperlakukan terhadap beliau, kecuali jika dilanggar larangan-larangan Allah, maka beliau membalasnya karena Allah ‘azza wajalla. (Demikian dalam kitab Al-Bidayah Wan-Nihayah (6/36)).
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Muslim (2/256), Abu Nu’aim dalam kitab Dalo ilun-Nubuwwah secara ringkas, Abdurrazaq, ‘Abd bin Humaid, dan al-Hakim dengan lafal yang sebagian besarnya sama dengan hadits Ahmad sebagaimana dalam kitab Kanzul-‘Ummal (4/47)).
Menurut riwayat Tirmidzi dalam kitab asy-Syama’ilul Muhammadiyyah (hal. 25) dari ‘Aisyah, ia berkata: Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membela diri dari kezaliman yang dilakukan terhadapnya sama sekali, selama tidak dilanggar salah satu larangan Allah ta’ala.
Apabila salah satu larangan Allah ta’ala telah dilanggar, beliau adalah orang yang paling marah terhadapnya.
Saat beliau diberikan pilihan antara dua perkara, maka beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya selama bukan merupakan dosa.
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Abu Yala dan al-Hakim, -sebagaimana dalam kitab Kanzul-Ummal (4/47).
7. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Tikak Pernah Berkata Keji, Berteriak, Mencela ataupun Melaknat Orang Tertentu
ABU DAWUD Thayalisi meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Abdillah al-Jadali, ia berkata: Ketika aku bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku mendengar ia berkata, “Beliau bukanlah orang yang suka berkata keji -baik disengaja ataupun tidak- tidak pula tukang teriak di pasar-pasar, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan, akan tetapi memaafkan dan mentolerir-atau ia berkata: Memaafkan dan mengampuni.” (Abu Dawud ragu-ragu).
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan ia berkata: Hadis hasan shahih. (Demikian dalam kitab Al-Bidayah Wan-Nihayah (6/36)).
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh ibnu Sa’d (1/90) dari Abu Abdillah dari ‘Aisyah dengan lafal yang sebagian besarnya sama, Ahmad dan al-Hakim sebagaimana dalam kitab Kanzul-‘Ummál (4/47).











