1. Umar Radhiallahu ‘Anhu Naik Unta Dalam Perjalanannya Menuju Syam
IBNU ASAKIR meriwayatkan beserta sanadnya dari Aslam, ia berkata: Ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu tiba di Syam dengan mengendarai Unta, orang-orang saling membicarakan diantara mereka.
Maka Umar berkata, “Mata mereka hanya akan terpaku memandang kendaraan orang-orang yang tidak memiliki bagian (di Akherat).”
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Ibnul Mubarak (Demikian dalam Kitab Muntakhab Kanzil ‘Ummal (4/417).
2. Umar Radhiyallahu ‘Anhu Mengajari Kaum Wanita Cara Membuat Bubur Gandum
IBNU SA’D meriwayatkan beserta sanadnya dari Hizam bin Hisyam dari ayahnya, ia berkata: Aku melihat Umar Ibnul Khattab radhiyallahu ‘anhu melewati seorang wanita yang sedang membuat bubur gandum (asida).
Lalu, Umar berkata, “Bukan begini cara membuat bubur gandum (asida).”
Kemudian, ia mengambil kayu adukan, lalu berkata, “Begini caranya.”
Lalu, Umar menunjukkan caranya kepada wanita tersebut.
Dari Hisyam bin Khalid, ia berkata: Aku pernah mendengar Umar bin Khattab berkata, “Jangan kalian menuangkan tepung sebelum airnya panas. Kemudian (setelah air panas) taburkan tepung sedikit demi sedikit, dan aduk dengan kayu adukan.
Dengan cara tersebut, hasilnya akan lebih merata, dan kemungkinan besar tidak menggumpal.”
[Demikian dalam Kitab Muntakhab Kanzil ‘Ummal (4/417)].
3. Umar Radhiyallahu Anhu Pergi ke Masjid Tanpa Alas Kaki dan Mencela Dirinya Sendiri dalam Khutbahnya
MARWAZI meriwayatkan beserta sanadnya dalam Kitab al-‘Idain dari Zirr, ia berkata: Aku pernah melihat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berjalan kaki menuju Shalat Ied tanpa alas kaki.
[Demikian dalam Kitab Muntakhab Kanzil Ummal (4/418)].
Dinawari meriwayatkan beserta sanadnya dari Muhammad bin Umar Al Makhzumi dari ayahnya, ia berkata: Suatu ketika Umar bin Khattab menyeru, “Ash shalotu jámi’ah!”
Lalu, ketika orang-orang telah berkumpul dan jumlah mereka sudah banyak, Umar naik mimbar.
la pun membaca tahmid dan tsana kepada Allah dan membaca shalawat untuk NabiNya shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kemudian, ia berkata, “Hadirin sekalian, sungguh aku telah melihat diriku menggembalakan hewan ternak milik bibi-bibiku dari bani Makhzum.
Lalu, mereka memberiku upah berupa satu genggam kurma dan kismis. Begitulah aku menjalani hari-hariku. Hari macam apa itu!”











