1. Pernyataan Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallāhu ‘Anhu Tentang Sifat Malu Nabi Shallallāhu ‘Alaihi Wasallam
IMAM BUKHARI meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Sifat malu Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam melebihi sifat malu perawan di dalam pingitannya.
Dalam riwayat yang lain ada tambahan: Apabila beliau tidak menyukai sesuatu, hal itu dapat diketahui dari raut wajahnya.
Diriwayatkan pula oleh Muslim,-demikian dalam kitab al-Bidâyah Wan: Niháyah (6/36), Tirmidzi dalam kitab asy-Syamáilul-Muhammadiyyah (hal. 26) dan ibnu Sa’d (1/92).
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Thabarani dari “Imran bin Hushain dengan lafal yang sebagian besarnya sama. (Haitsami (9/17) berkata: Diriwayatkan oleh Thabarani dengan dua sanad, dan para perawi pada salah satu dari kedua sanad tersebut adalah para perawi kitab Shahih).
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Bazar dari Anas radhiyallôhu ‘anhu dengan lafal yang sebagian besarnya sama, dan menambahkan: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sifat malu itu baik semuanya.”
[Haitsami (9/17) berkata: Para perawinya adalah perawi kitab Shahih selain Muhammad bin
Umar al-Muqaddami, namun dia rawi yang tsiqah].
2. Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam Merasa Malu untuk Menyampaikan Kepada Para Sahabatnya Apa yang Tidak Mereka Suka
AHMAD meriwayatkan beserta sanadnya dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, bahwa ketika Nabi shallallôhu ‘alaihi wasallam melihat ada bekas warna kuning pada seseorang, beliau merasa tidak suka.
Lalu, setelah orang itu pergi, beliau bersabda, “Alangkah baiknya jika kalian menyuruh orang itu untuk membasuh bekas warna kuning itu dari badannya.”
Anas berkata: Beliau hampir tidak pernah menyampaikan sesuatu yang tidak beliau sukai kepada seseorang.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dalam kitab asy-Syama ilul-Muhammadiyyah dan Nasa’i dalam kitab ‘Amalul-Yaum wal-Lailah.





