1. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Meringankan Shalatnya Karena Mendengar Tangisan Anak Kecil dan Kisah Beliau Bersama Seseorang Mengenai Kasih Sayang
BUKHARI dan Muslim meriwayatkan beserta sanadnya dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Adakalanya ketika memulai shalat, aku ingin memanjangkannya, lalu aku mendengar tangisan anak kecil, maka aku pun mempercepat shalatku, karena aku mengetahui betapa sedih ibunya mendengar tangisannya itu.” [Demikian dalam kitab Shifotush-Shafwah (hal 66)].
Muslim meriwayatkan beserta sanadnya dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Di mana ayahku kelak?”
Beliau bersabda, “Di neraka.”
Lalu, ketika beliau melihat ekspresi wajah orang itu, beliau bersabda, “Sesungguhnya, ayahku dan ayahmu akan masuk Neraka.” [Muslim bersendiri dalam periwayatannya. -Demikian dalam kitab Shifatush-Shafwah (1/66)].
2. Kisah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bersama Seorang Arab Badui yang Berkata Kasar Kepada Beliau
BAZAR meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta tolong kepadanya mengenai suatu perkara (Ikrimah berkata: Sepertinya ia berkata mengenal diat atas kasus pembunuhan).
Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya sesuatu. Kemudian, beliau bersabda, “Apakah perbuatanku kepadamu ini sudah cukup baik?”
Orang Arab Badui itu berkata, “Tidak, juga tidak pantas.”
Maka marahlah sebagian kaum muslimin dan ingin bertindak terhadapnya.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi isyarat kepada mereka untuk menahan diri.
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi dan sampai ke rumahnya, beliau mengundang orang Arab Badui itu untuk datang ke rumah beliau.
Lalu, beliau bersabda, “Kamu datang kepada kami untuk meminta dari kami, lalu kami memberi kepadamu. Namun, kamu berkata seperti itu.”
Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menambahkan sesuatu untuknya, dan berkata, “Apakah perbuatanku kepadamu ini sudah cukup baik?”
Lalu, orang Arab Badui itu berkata, “Ya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas nama segenap keluarga dan kerabat.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kamu datang kepada kami untuk meminta dari kami, lalu kami memberi kepadamu.
Namun, kamu berkata seperti itu. Jadi, sahabatku merasa geram kepadamu atas ucapanmu itu. Maka nanti jika kamu datang lagi kepada mereka, katakanlah di hadapan mereka apa yang kamu katakan kepadaku, agar hilang rasa geram dari dada-dada mereka.”
Lalu orang itu berkata, “Baiklah.”
Kemudian, ketika orang Arab Badui itu datang lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya, teman kalian ini dulu datang kepada kita, lalu meminta dari kami maka kami pun memberinya, lalu ia berkata seperti itu.
Namun, kami telah mengundangnya, lalu kami memberi lagi kepadanya. Akhirnya ia merasa puas dengan pemberian itu. Benarkah begitu, hai Badui?”











