10 - Akhlak

Beberapa Kisah Tentang Kerendahan Hati Nabi SAW. Sebagai Pelajaran Umat

2
×

Beberapa Kisah Tentang Kerendahan Hati Nabi SAW. Sebagai Pelajaran Umat

Sebarkan artikel ini

1. Kisahnya ‘Alaihis-Salâm Bersama Jibril dan Malaikat yang Lain

AHMAD meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika Jibril ‘alaihis-salâm sedang duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia memandang ke arah langit.

Tiba-tiba ada seorang malaikat turun. Lalu, Jibril berkata, “Sebelumnya, malaikat ini tidak pernah turun sejak diciptakan.”

Setelah turun, malaikat itu berkata, “Wahai, Muhammad. Tuhanmu mengutusku kepadamu (untuk memberikan pilihan kepadamu): Apakah engkau ingin Dia menjadikanmu seorang raja sekaligus nabi ataukah hamba (Allah) sekaligus rasul?”

Jibril berkata, “Berendah hatilah kepada Tuhanmu, wahai Muhammad.”

Beliau berkata, “Saya memilih menjadi hamba sekaligus rasul.”

[Haitsami (9/19) berkata: Diriwayatkan oleh Ahmad, Bazar, dan Abu Ya’la. Para perawi Ahmad dan Bazar adalah para perawi Kitab Shahih).

Diriwayatkan pula oleh Abu Yala dengan sanad hasan, (sebagaimana dikatakan oleh Haltsami) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan lafal yang semakna, disertai adanya tambahan pada bagian awalnya.

Dan pada bagian akhirnya ada tambahan: ‘Aisyah berkata, “Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah makan sambil duduk bersandar.

Beliau bersabda, “Aku makan sebagaimana makan seorang hamba, dan akupun duduk sebagaimana duduk seorang hamba.”

Telah disebutkan sebelumnya hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dengan lafal yang semakna pada bab Menolak Harta menurut riwayat Thabarani dan yang lainnya.

2. Perkataan Abu Umamah al-Bahili Radhiyallahu ‘Anhu Mengenai Sifat Rendah Hati Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Ghalib, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, “Sampaikanlah kepada kami sebuah hadis yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Abu Umamah berkata, “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (sesuai dengan) Alquran, beliau memperbanyak zikir, memendekkan khutbah, memanjangkan shalat, tidak merasa enggan ataupun sombong untuk pergi menemani orang yang miskin dan lemah sampai orang itu selesai menunaikan keperluannya.”

[Sanadnya hasan, -sebagaimana dikatakan oleh Haitsami (9/20). Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Baihaqi dan Nasa’i dari Abdullah bin Abu Aufa radhiyallahu ‘anhu dengan lafal yang sebagian besarnya sama, – sebagaimana dalam Kitab al-Bidayah (6/45)].

3. Perkataan Anas Radhiyallahu ‘Anhu Mengenai Hal Ini

DIRIWAYATKAN pula beserta sanadnya oleh Thayalisi dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa memperbanyak zikir, meninggalkan bicara sia-sia, naik keledai, mengenakan pakaian wol, dan memenuhi undangan hamba sahaya.

Seandainya kamu melihat beliau pada hari ketika terjadi Perang Khaibar naik seekor keledai yang tali kekangnya terbuat dari serat pelepah kurma (tentu kamu akan paham betul sifat rendah hati beliau).

Tirmidzi dan ibnu Majah juga meriwayatkan sebagian hadis tersebut dari Anas.

[Demikian dalam kitab al-Bidayah (6/45)].

Aku (penyusun) mengatakan: Tirmidzi menambahkan riwayat dari Anas: Menjenguk orang sakit, dan menghadiri (acara pemakaman) jenazah.

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh ibnu Sa’d (1/95) dari Anas dengan panjang lebar.

4. Perkataan Abu Musa, Ibnu ‘Abbas, dan Anas Radhiyallahu ‘Anhum Mengenai Hal Ini

BAIHAQI meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa naik keledai, mengenakan pakaian wol, memerah sendiri susu kambing dengan menjepit kakinya, dan menyajikan sendiri jamuan untuk tamu.

[Hadis ini gharib ditinjau dari rangkaian sanad ini. Para muhadditsin tidak meriwayatkannya, dan sanadnya yang jayyid].

[Demikian dalam kitab al-Bidayah wan-Nihayah (6/45)].

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Thabarani dari Abu Musa dengan lafal yang sama dan para perawinya adalah perawi kitab Shabib,-sebagaimana dikatakan oleh Haitsami (9/20).

Menurut riwayat Thabarani dari ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Beliau biasa duduk di atas tanah dan makan di atas tanah, memerah sendiri susu kambing dengan menjepit kakinya, memenuhi undangan hamba sahaya untuk menikmati roti jewawut.

[Sanadnya hasan, -sebagaimana dikatakan oleh Haitsami (9/20)].

Menurut riwayatnya pula dari (ibnu ‘Abbas), ia berkata: Adakalanya seseorang yang tinggal di kawasan tinggi Kota Madinah mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada tengah malam untuk menikmati roti jewawut, maka beliau pun memenuhi undangannya.

[Para perawinya tsiqah, sebagaimana dikatakan oleh Haitsami (9/20)].

Menurut riwayat Tirmidzi dalam Kitab asy-Syama ‘il (hal. 23) dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendapat undangan makan dengan jamuan roti jewawut dan lemak yang baunya sudah agak berubah, beliau tetap memenuhinya.

Beliau memiliki sebuah baju besi (yang digadaikan) kepada seorang yahudi.

Beliau tidak memiliki sesuatu untuk menebusnya sampai beliau wafat.

5. Perkataan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu Mengenai Hal yang Sama

ABU YA’LA meriwayatkan beserta sanadnya dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa seseorang memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebanyak tiga kali.

Setiap kali dipanggil, beliau menyahut, “Labbaik, labbaik.”

[Haitsami (9/20) berkata: Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Kitab al-Musnadul-Kabir dari gurunya Jubarah bin Mughallas, yang dinyatakan tsiqah oleh ibnu Numair dan dinyatakan dha’if oleh jumhur.

Sedangkan para rawi lainnya tsiqah dan merupakan para perawi Kitab Shahih].

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul-Auliya’, Tammam dan Khathib Baghdadi, sebagaimana dalam kitab Kanzul-Ummál (4/45).

6. Kisah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Seorang Wanita

THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ada seorang wanita yang suka berbicara cabul kepada kaum lelaki dan suka berkata vulgar.

Suatu ketika ia lewat di depan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sedang makan tsarid di sebuah tempat yang tinggi.

Lalu, wanita itu berkata, “Lihatlah ia! Duduk seperti duduknya hamba, dan makan seperti makannya hamba.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hamba mana yang lebih baik penghambaannya (kepada Allah) daripada aku?”

Wanita itu berkata lagi, “la makan dan tidak memberiku makan.”

Beliau berkata, “Makanlah!”

la berkata, “Berilah aku dengan tanganmu!”

Maka beliau memberinya dengan tangan beliau. Lalu, ia berkata, “Beri aku makanan yang ada di mulutmu?”

Beliau pun memberinya, lalu ia memakannya. Maka ia pun dikuasai sifat malu, sehingga tidak suka berbicara cabul kepada seorang pun sampai meninggal.

[Sanadnya dha’if -sebagaimana dikatakan oleh Haitsami (9/21)].

7. Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Kepada Seseorang yang Gemetar di Hadapannya

THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dari Jarir radhiyallahu ‘anhu, bahwa seseorang datang ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka badannya gemetar.

Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Santailah kamu, Aku bukan seorang raja. Aku hanya anak seorang wanita dari Kabilah Quraisy yang biasa makan dendeng.”

[Haitsami (9/20) berkata: Dalam sanadnya terdapat para perawi yang tidak aku kenal].

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Baihaqi dari ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa seseorang berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari terjadinya Fathu Makkah, lalu badannya gemetar.

-Lalu, perawi meneruskan riwayatnya dengan lafal yang sebagian besarnya sama, -sebagaimana dalam Kitab Al-Bidayah (4/293).

Bazar meriwayatkan beserta sanadnya dari ‘Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ke masjid, maka putuslah jepit sandalnya.

Lalu, aku mengambil sandal itu untuk memperbaikinya. beliau mengambilnya dari tanganku dan bersabda, “Ini termasuk mementingkan diri sendiri, dan aku tidak suka mementingkan diri sendiri.”

[Haitsami (9/21) berkata: Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak aku kenal].

error: Allahu Akbar