1. Kisahnya ‘Alaihis-Salâm Bersama Jibril dan Malaikat yang Lain
AHMAD meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika Jibril ‘alaihis-salâm sedang duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia memandang ke arah langit.
Tiba-tiba ada seorang malaikat turun. Lalu, Jibril berkata, “Sebelumnya, malaikat ini tidak pernah turun sejak diciptakan.”
Setelah turun, malaikat itu berkata, “Wahai, Muhammad. Tuhanmu mengutusku kepadamu (untuk memberikan pilihan kepadamu): Apakah engkau ingin Dia menjadikanmu seorang raja sekaligus nabi ataukah hamba (Allah) sekaligus rasul?”
Jibril berkata, “Berendah hatilah kepada Tuhanmu, wahai Muhammad.”
Beliau berkata, “Saya memilih menjadi hamba sekaligus rasul.”
[Haitsami (9/19) berkata: Diriwayatkan oleh Ahmad, Bazar, dan Abu Ya’la. Para perawi Ahmad dan Bazar adalah para perawi Kitab Shahih).
Diriwayatkan pula oleh Abu Yala dengan sanad hasan, (sebagaimana dikatakan oleh Haltsami) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan lafal yang semakna, disertai adanya tambahan pada bagian awalnya.
Dan pada bagian akhirnya ada tambahan: ‘Aisyah berkata, “Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah makan sambil duduk bersandar.
Beliau bersabda, “Aku makan sebagaimana makan seorang hamba, dan akupun duduk sebagaimana duduk seorang hamba.”
Telah disebutkan sebelumnya hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dengan lafal yang semakna pada bab Menolak Harta menurut riwayat Thabarani dan yang lainnya.
2. Perkataan Abu Umamah al-Bahili Radhiyallahu ‘Anhu Mengenai Sifat Rendah Hati Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Ghalib, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, “Sampaikanlah kepada kami sebuah hadis yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Abu Umamah berkata, “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (sesuai dengan) Alquran, beliau memperbanyak zikir, memendekkan khutbah, memanjangkan shalat, tidak merasa enggan ataupun sombong untuk pergi menemani orang yang miskin dan lemah sampai orang itu selesai menunaikan keperluannya.”
[Sanadnya hasan, -sebagaimana dikatakan oleh Haitsami (9/20). Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Baihaqi dan Nasa’i dari Abdullah bin Abu Aufa radhiyallahu ‘anhu dengan lafal yang sebagian besarnya sama, – sebagaimana dalam Kitab al-Bidayah (6/45)].
3. Perkataan Anas Radhiyallahu ‘Anhu Mengenai Hal Ini
DIRIWAYATKAN pula beserta sanadnya oleh Thayalisi dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa memperbanyak zikir, meninggalkan bicara sia-sia, naik keledai, mengenakan pakaian wol, dan memenuhi undangan hamba sahaya.
Seandainya kamu melihat beliau pada hari ketika terjadi Perang Khaibar naik seekor keledai yang tali kekangnya terbuat dari serat pelepah kurma (tentu kamu akan paham betul sifat rendah hati beliau).
Tirmidzi dan ibnu Majah juga meriwayatkan sebagian hadis tersebut dari Anas.
[Demikian dalam kitab al-Bidayah (6/45)].






