10 - AkhlakUpdate

Begini Sifat Malu Para Sahabat Nabi SAW.

3
×

Begini Sifat Malu Para Sahabat Nabi SAW.

Sebarkan artikel ini

1. Sabda Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam Mengenai Sifat Malu Utsman Radhiyallâhu ‘Anhu

AHMAD meriwayatkan beserta sanadnya dari Sa’id bin ‘Ash radhiyalahu anhu, Aisyah istri Nabi shallalláhu alaihi wasallam dan Utsman radhiyallohu ‘anhu memberitahu kepadanya: suatu ketika Abu Bakar radhiyollahu anhu
meminta izin untuk menemui Nabi shallallahu alaihi wasallom ketika beliau berbaring di atas tempat tidurnya memakai kain jarit ‘Aisyah.

Bellau mengizinkan Abu Bakar untuk masuk dan beliau masih seperti itu.

Lalu, Abu Bakar menyampaikan keperluannya kepada beliau kemudian pergi.

Setelah itu, Umar radhiyallähu ‘anhu
inta izin, maka beliau mengizinkannya, sedangkan beliau masih dalam keadaan demikian.

Lalu, Umar menyampaikan keperluannya kepada beliau kemudian Usman berkata: Kemudtan aku meminta izin untuk menemui beliau maka beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Betulkan pakaianmu baik-baik.”

Lalu, aku menvampaikan keperluanku kepada beliau kemudian aku pergi.

Lalu, Aisyah berkata, “Wahai, Rasulullah, aku tidak gugup menghadapi Abu Bakar dan Umar sebagaimana engkau gugup menghadapi Utsman?”

Maka Rasulullah shallollähu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya, Utsman adalah seorang laki-Iaki yang pemalu. Aku khawatir jika aku mengizinkannya ketika keadaanku seperti ini, ia tidak akan menyampaikan keperluannya kepadaku.

Laits berkata: Para perawi hadis ini berkata: Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam bersabda kepada Aisyah, “Tidakkah aku malu terhadap orang yang malaikat pun malu terhadapnya ?”

Diriwayatkan pula oleh Muslim dan Abu Ya’la dari ‘Aisyah.

Diriwayatkan pula oleh Ahmad dari rangkaian sanad yang lain dari ‘Aisyah dengan lafal yang sebagian besarnya sama, juga oleh Ahmad dan Hasan bin ‘Arafah dari Hafshah radhiyallahu ‘anhá dengan lafal yang sama seperti hadis ‘Aisyah.

Menurut riwayat Thabarani dari ibnu Umar radhiyalâhu anhumâ, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam sedang duduk dan ‘Aisyah radhiyallähu anha berada di belakangnya, tiba-tiba Abu Bakar radhiyallahu anhu meminta izin, lalu masuk.

Kemudian, Umar radhiyallahu anhu meminta izin, lalu masuk. Kemudian, Sa’d bin Malik radhiyalâhu anhu meminta izin, lalu ia masuk.

Kemudian, Utsman bin ‘Affan radhiyallâhu ‘anhu meminta izin, lalu ia masuk.

Ketika itu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam sedang berbincang-bincang sedangkan kedua lutut beliau terbuka.

Lalu, ketika Utsman meminta izin, beliau menutupkan pakaiannya pada lulutnya, dan berkata kepada istrinya (‘Aisyah), “Mundurlah.”

Lalu, mereka berbincang sebentar, kemudian mereka keluar. Lalu, ‘Aisyah berkata, “Wahai Nabiyulláh! Ketika ayahku dan para sahabatnya masuk, engkau tidak membetulkan pakaianmu pada lututmu dan tidak menyuruhku menyingkir darimu (namun engkau melakukannya ketika Utsman meminta izin)?”

Lalu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wasalam bersabda “Tidakkah aku malu terhadap laki-laki yang malaikat pun malu terhadapnya. Demi Zat yang jiwaku ada di tanganNya. Sesungguhnya, para malaikat malu terhadap Utsman, sebagaimana ia malu terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Jika ia masuk sedangkan kamu berada dekat dariku, tentu ia tidak berbicara dan tidak mengangkat kepalanya sampai keluar (Hadis ini gharib ditinjau dari rangkaian sanad ini. Di dalamnya ada tambahan yang tidak ada pada riwayat sebelumnya, dan dalam sanadnya ada kelemahan.

[Demikian dalam kitab al-Bidayah wan-Nihayah (7/203-204)].

Hadis Hafshah radhiyallahu ‘anha diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Thabarani dalam al-Mu’jamul-Kabir dan al-Mu’jamul-Ausath secara panjang lebar dan Abu Ya’la dengan sangat ringkas dan sanadnya hasan,-sebagaimana dikatakan oleh Haitsami (9/82).

Hadis ibnu Umar diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Abu Ya’la dengan lafal yang sebagian besarnya sama, dan dalam sanadnya terdapat Ibrahim bin Umar
bin Aban, seorang rawi yang dha’if,-sebagaimana dikatakan oleh Haitsami (9/82).

2. Hadis Hasan Mengenai Sifat Malu Utsman dan Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhuma

AHMAD (1/73) meriwayatkan beserta sanadnya dari Hasan-dan telah menceritakan Utsman radhiyallahu ‘anhu dan sifat malunya yang begitu kuat-la berkata: Adakalanya ia berada di dalam kamar (kecil) dan pintu tertutup, namun ia tidak menanggalkan pakaiannya agar dapat membasuh badannya dengan air.

Sifat malu telah menahannya dari menegakkan tulang punggungnya (berdiri).

[Haitsami (9/82) berkata: Diriwayatkan oleh Ahmad, dan para rawinya tsiqah].

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul-Auliya’ (1/56) dengan lafal yang sama.

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Sufyan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian malu terhadap Allah. Aku sendiri ketika masuk ke toilet, menutupi kepalaku karena merasa malu terhadap Allah ‘azza wajalla.” [Demikian dalam kitab Kanzul-‘Ummål (2/144)].

3. Sifat Malu Utsman Bin Mazh’un Radhiyallahu ‘Anhu

IBNU SA’D (3/287) meriwayatkan beserta sanadnya dari Sa’d bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan ‘Umarah bin Ghurab al-Yahshubi, bahwa Utsman bin Mazh’un radhiyallahu ‘anhu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, “Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya, saya tidak suka jika istriku melihat auratku.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mengapa?”

la berkata, “Saya malu dan tidak suka dengan hal itu.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya, Allah menjadikannya (istrimu) sebagai pakaian bagimu, dan Dia menjadikanmu sebagai pakaian baginya. Istri-istriku melihat auratku dan akupun melihat aurat mereka.”

la berkata, “Engkau melakukannya, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Ya.”

Utsman berkata, “Siapa yang saya ikuti kalau bukan engkau?”

Lalu, setelah ia pergi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ibnu Mazh’un adalah orang yang pemalu dan sangat menutupi (auratnya).”

4. Sifat Malu Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu

ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliya (1/260) dari Abu Mijlaz, ia berkata: Abu Musa radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika di kamar yang gelap, aku tidak menegakkan tulang punggungku sampai aku mengenakan pakaian kembali, karena malu terhadap Tuhanku ‘azza wajalla.

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh ibnu Sa’d (4/84) dari Abu Mijlaz dengan lafal yang sebagian besarnya sama, dan dari ibnu Sirin dengan lafal yang sama.

Menurut riwayatnya pula dari Qatadah radhiyollähu ‘onhu, ia berkata: Apabila Abu Musa mandi di kamar yang gelap, ia membungkuk menekuk punggungnya sampai mengenakan kembali pakaiannya, tidak berdiri tegak.

Menurut riwayatnya (4/82) pula dari Anas radhiyallôhu ‘anhu, ia berkata: Apabila Abu Musa al-Asy’ari tidur, ia memakai beberapa helai pakaian karena khawatir akan terbuka auratnya.

Dia (4/84) juga meriwayatkan beserta sanadnya dari ‘Ubadah bin Nusay, ia berkata: Suatu kali Abu Musa melihat orang-orang yang sedang berdiri di air tanpa kain sarung.

Lalu, ia berkata, “Aku lebih suka mati kemudian dibangkitkan lagi, kemudian mati lagi, kemudian dibangkitkan lagi, kemudian mati lagi, kemudian dibangkitkan lagi, daripada melakukan perbuatan seperti itu.”

5. Sifat Malu Asyajj Bin ‘Abdul-Qais Radhiyallâhu ‘Anhu

IBNU ABI SYAIBAB dan Abu Nu’aim meriwayatkan beserta sanadnya dari Asyaj -Asyajj ‘Abdul-Qais radhiyallâhu ‘anhu- ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Sesungguhnya, pada dirimu terdapat dua tatbiat yang disukai oleh Allah.”

Aku bertanya, “Apakah kedua tabiat itu?”

Beliau bersabda, “Sifat santun dan malu.”

Aku bertanya, “Apakah sifat itu sudah lama (bawaan) ataukah baru (bentukan) ?”

Beliau bersabda, “Bukan baru (bentukan), tapi sudah lama (bawaan)”

Aku berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberiku dua tabiat bawaan yang disukai oleh Allah.”

[Demikian dalam kitab Muntakhab Kanzil-Ummâl (5/140)].

error: Allahu Akbar