IBNU JARIR meriwayatkan beserta sanadnya dalam Kitab Tarikh-nya (3/33) dari jalur sanad Saif dari Muhammad, Thalhah, (Amr dan Ziyad dengan sanad mereka masing-masing, mereka berkata: Said radhiyallahu ‘anhu mengirim utusan untuk memanggil Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu serta beberapa orang lainnya.
Lalu ia berkata kepada mereka, “Aku akan mengutus kalian untuk menjumpai musuh (orang-orang Persia di Qadisiyah). Bagaimana pendapat kalian?”
Maka mereka semua mengatakan, “Kami mengikuti apa yang engkau perintahkan kepada kami, dan tidak ada pilihan lain bagi kami.
Kemudian apabila timbul suatu perkara yang tidak engkau tetapkan, maka kami akan mempertimbangkannya dan mengambil yang paling tepat dan paling bermanfaat bagi orang-orang.
Lalu kami akan membicarakannya bersama mereka.”
Sa’d berkata, “Ini adalah sikap orang-orang yang bijaksana dan teguh pendirian! Berangkatlah kalian dan bersiap-siaplah menghadapi mereka.”
Maka Rib’i bin Amir berkata, “Orang-orang non-Arab itu memiliki pendapat dan adab yang berbeda.
Jika kami datang bersama-sama kepada mereka, maka mereka akan memandang bahwa kita telah memberikan penghormatan yang tinggi kepada mereka.
Maka cukup satu orang saja yang datang kepada mereka.”
Orang-orang pun setuju dengan usul Rib’i. Ia berkata, “Berikanlah izin kepada saya untuk berangkat (pertama kali).”
Maka Sa’d radhiyallahu ‘anhu mengizinkannya.
Rib’i pun berangkat untuk menemui Rustum di tendanya. Namun ia dihadang oleh tentara Persia yang berada di atas jembatan.
Lalu kabar kedatangan Rib’i dilaporkan kepada Rustum. Maka Rustum meminta pendapat kepada para pembesar Persia. Ia berkata, “Bagaimana pendapat kalian?
Apakah sebaiknya kita menunjukkan kekuatan militer kita atau membuat mereka merasa rendah (dengan menampakkan kemewahan kita)?”
Maka mereka bersepakat untuk membuat utusan pasukan kaum muslimin merasa rendah.
Mereka pun memajang segala macam hiasan dan perhiasan serta menghamparkan permadani dan bantal-bantal sandaran.
Tidak ada sesuatu pun yang mereka biarkan tanpa dipajang, sedangkan untuk Rustum disediakan singgasana yang terbuat dari emas, dilengkapi dengan hlasannya berupa permadani dan bantal yang disulam dengan benang emas.
Kemudian datanglah Rib’i dengan mengendarai kudanya yang berbulu panjang dan lebat namun bertubuh pendek.
Ia membawa sebilah pedang yang berkilauan, sedangkan sarung pedangnya berupa gulungan kain yang sudah usang.
Pegangan tombaknya diliit dengan urat-urat leher binatang, la membawa sebuah perisai yang terbuat dari kulit sapi.
Dibagian depan perisai itu terdapat lapisan kulit berwarna merah yang terlihat bagaikan roti bundar. Ia juga membawa busur dan anak panah.
Setelah tiba di tenda Raja dan sampai di permadani pertama, seseorang berkata kepadanya, “Turun!”
Namun Rib’i tetap membawa kudanya berjalan diatas permadani.
Setelah kuda itu berdiri tegak di atas permadani, barulah Rib’i turun darinya.
Ia pun mengikat kudanya dengan dua buah bantal. la menusuk kedua bantal tersebut lalu memasukkan tali pengikat kuda ke dalam lobang bantal tersebut.
Namun demikian, orang-orang tidak kuasa menghalanginya. Mereka hanya ingin memperlihatkan apa yang mereka miliki kepada Rib’i, dan ia mengerti apa yang mereka inginkan.
Maka Rib’i ingin menyempitkan dada mereka (agar mereka merasa pesimis).
Ketika itu ia mengenakan sebuah baju besi yang terlihat seperti air pada bendungan.
Mantelnya adalah pakaian untanya yang telah ia potong dan ia pakai serta mengikat bagian tengahnya dengan tali yang terbuat dari kulit pohon, la juga mengikat kepalanya dengan ikat kepala berupa dadung yang biasa digunakan untuk mengikat untanya.
Ia termasuk orang Arab yang paling lebat rambutnya. Rambutnya dikepang menjadi empat kepangan yang berdiri tegak laksana tanduk kambing hutan.
Orang-orang berkata, “Letakkan senjatamu!”
Rib’i radhiyallahu ‘anhu menyahut, “Aku datang ke sini bukan karena kemauanku sendiri sehingga harus meletakkan senjataku dengan perintah kalian.
Akan tetapi kalianlah yang mengundangku ke sini. Jika kalian setuju bahwa aku datang ke sini dengan cara yang aku mau, maka aku akan datang. Namun jika tidak, aku akan kembali.”
Ketika mereka melaporkan hal itu kepada Rustum, ia berkata, “Izinkan ia masuk! Bukankah ia hanya seorang diri?!”
Kemudian datanglah Rib’i radhiyallahu ‘anhu dengan menjadikan tombaknya sebagai tongkat, dengan ujung tombak berada dibagian bawah.
Ia berjalan dengan langkah yang pendek. Ujung tombak tersebut ia tusukkan pada bantal-bantal sandaran dan permadani.
Tidak ada satu bantal ataupun permadani yang tidak ia rusak sehingga semuanya terkoyak dan robek.
Setelah Rib’i radhiyallahu ‘anhu berada di dekat Rustum, para pengawal segera berdiri di sekelilingnya.
la pun duduk di atas tanah dan menancapkan tombaknya di permadani.
Orang-orang bertanya, “Apa yang mendorongmu untuk berbuat seperti itu?
Ia menjawab, “Kami tidak suka duduk di atas tempat yang kalian hiasi itu.”
Lalu Rustum berbicara kepada Rib’i, “Apa yang membuat kalian datang ke sini?”
Jawab Rib’i, “Allah telah mengutus kami. Allah mendatangkan kami ke sini agar kami mengeluarkan orang-orang yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama hamba menuju kepada penghambaan diri kepada Allah, dan kesempitan hidup di dunia kepada kelapangannya, dan dari kezaliman agama-agama lain menuju kepada keadilan Islam….”
-Lalu perawi meneruskan riwayatnya, sebagaimana telah disebutkan dalam bab Dakwah Para Sahabat Pada Masa Umar Radhiyallahu Anhu (jilid 1).
Demikian seterusnya hingga disebutkan bahwa Rustum berkata kepada orang-orang di dekatnya, setelah mereka meremehkan pakaian Ribi radhiyallahu ‘anhu), “Payah kalian ini! Janganlah kalian memerhatikan pakaiannya saja!
Akan tetapi perhatikanlah pikiran, ucapan, dan perilakunya!
Sesungguhnya orang-orang Arab tidak menganggap penting pakaian dan makanan.
Akan tetapi mereka sangat menjaga kemuliaan mereka. Pakaian mereka tidak seperti pakaian kalian dan pandangan mereka terhadap pakaian juga tidak seperti pandangan kalian.”
Lalu mereka menghampiri Rib’i, memegangi perlengkapan senjatanya, dan meremehkannya.
Maka Rib’i berkata, “Maukah kalian menunjukkan kekuatan senjata kalian kepadaku, lalu aku akan menunjukkan kekuatan senjataku kepada kalian?
Lalu Rib’i mengeluarkan pedangnya dari sarung pedangnya berupa gulungan kain usang. Pedang itu terlihat seperti nyala api.
Orang-orang Persia berkata, “Sarungkan kembali pedangmu!”
Rib’i pun menyarungkan pedangnya. Kemudian ia memanah sebuah perisai (milik mereka), dan mereka memanah perisai Rib’i (yang terbuat
dari kulit).
Panah Rib’i berhasil menembus perisai mereka, sedangkan perisal Ribi selamat.
Lalu Rib’i berkata, “Wahai orang-orang Persia! Kalian sangat mementingkan makanan, pakaian, dan minuman. Sedangkan kami tidak begitu menaruh perhatian terhadapnya.”
Kemudian Rib’i radhiyallahu ‘anhu kembali untuk memberikan tenggang waktu bagi mereka dalam mengambil keputusan.
Pada keesokan harinya, mereka mengirim pesan, “Utuslah kepada kami orang yang kemarin datang sebagai utusan.”
Lalu Sa’d radhiyallahu ‘anhu mengirimkan kepada mereka Hudzaifah bin Mihshan radhiyallahu ‘anhu, la pun datang dengan
penampilan yang sama seperti yang dikenakan oleh Rib’i radhiyallohu anhu.
Ketika sampai di permadani pertama, dikatakan kepadanya, “Turunlah kamu!”
Hudzaifah mengatakan, “Itu kalau aku datang kepada kalian demi keperluanku.
Silakan tanyakan kepada raja kalian: ‘Apakah dia yang memerlukan, ataukah aku yang memerlukan?’
Jika ia mengatakan bahwa aku yang memerlukannya, sungguh ia telah berdusta. Maka aku akan kembali dan meninggalkan kalian.
Namun jika la mengatakan bahwa ia yang memerlukanku, maka aku tidak akan datang kepada kalian kecuali dengan cara yang aku sukai.”
(Ketika pesan itu disampaikan,) Rustum berkata, “Biarkan ia datang seperti itu!”
Maka datanglah Hudzaifah hingga berdiri diatas permadani.Sedangkan Rustum duduk di atas singgasananya.
Lalu Rustum berkata, “Turunlah kamu.”
Hudzaifah menjawab, “Aku tidak mau turun.”
Setelah Hudzaifah tidak mau turun, Rustum bertanya kepadanya, “Mengapa kamu yang datang, sedangkan kawanmu yang kemarin itu tidak datang ke sini?”
la menjawab, “Sesungguhnya komandan kami ingin bersikap adil kepada kami mengenai kesusahan dan kelapangan yang kami hadapi. Dan sekarang adalah giliranku.
Rustum bertanya, “Apakah yang membuat kalian datang ke sini?”
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah mengaruniakan agama-Nya kepada kami.
Dan Dia telah memperlihatkan tanda- tanda kebesaran-Nya kepada kami sehingga kami mengenali-Nya.
Sedangkan sebelumnya, kami mengingkari-Nya. Kemudian Dia memerintahkan kepada
kami untuk mengajak manusia kepada salah satu dari tiga perkara.
Mana pun diantara ketiganya yang mereka pilih, kami akan menerimanya:
(1) kalian memilih masuk Islam, dan kami akan pergi membiarkan kalian, atau
(2) jizyah, dan kami akan melindungi kalian apabila kalian memerlukannya, atau
(3) perang.”
Rustum mengatakan, “Atau mungkin bisa mengadakan perjanjian damai sampai batas waktu tertentu?”
Hudzaifah berkata, “Boleh! Yaitu tiga hari terhitung dari kemarin.” Maka setelah Rustum tidak mendapatkan pilihan lain dari Hudzaifah selain yang disampaikan pula oleh Rib’i, ia mempersilakan Hudzaifah untuk kembali.
Lalu Rustum menghadap kepada orang-orangnya dan berkata, “Payah kalian! Tidakkah kalian melihat apa yang aku lihat? Orang pertama kemarin datang, dan ia mengalahkan kita di negeri kita ini.
la telah menghinakan apa yang kita agung-agungkan. Dia membiarkan kudanya berdiri di atas perhiasan kita dan mengikat kuda itu dengannya.
Dengan demikian ia mendapatkan perasaan optimis bahwa ia akan berhasil mengambil negeri kita beserta isinya. Apalagi ditambah dengan keistimewaan akalnya!!!
Dan pada hari ini, datanglah orang itu. la pun berdiri di hadapan kita. Ia juga mendapatkan perasaan optimis bahwa ia akan dapat menguasai negeri kita dan mengusir kita.”
Demikianlah, Rustum dan orang-orangnya pun berdialog hingga membuat marah satu sama lain.
Kemudian pada keesokan harinya, Rustum mengirim pesan, “Kirimkanlah kepada kami seorang laki-laki (sebagai utusan)!”
Maka kaum muslimin mengirimkan kepada mereka Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu.
Kemudian Ibnu Jarir (3/36) meriwayatkan beserta sanadnya dari jalur sanad Saif dari Abu Utsman An-Nahdi, ia berkata: Ketika Mughirah tiba di jembatan, ia menyeberanginya menuju orang-orang Persia. Namun mereka menahannya.
Mereka pun meminta izin kepada Rustum untuk membiarkan Mughirah menyeberangi jembatan.
Orang-orang Persia tidak mengubah sedikit pun pakaian-pakaian mereka yang indah, untuk memperkuat sikap mereka dalam menunjukkan kekayaan yang mereka miliki.
Maka datanglah Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, sedangkan orang-orang Persia mengenakan pakaian istimewa mereka.
Mereka mengenakan mahkota-mahkota dan pakaian-pakaian yang disulam dengan benang emas.
Permadani mereka terbentang sejauh lemparan anak panah,” dan seseorang tidak akan sampai kepada Raja mereka kecuali jika berjalan kaki di atas permadani tersebut sejauh lemparan anak panah.
Kemudian datanglah Mughirah radhiyallahu ‘anhu yang memiliki empat kepang rambut.
Ia berjalan hingga akhirnya duduk bersama Rustum di atas singgasana dan bantalnya.
Para pengawal pun memegangnya, menariknya, berusaha untuk menurunkannya, dan memukulnya dengan pukulan yang ringan.
Lalu Mughirah berkata, “Telah sampai kabar kepada kami mengenai sifat kesantunan kalian.
Namun kini aku melihat tidak ada orang yang lebih bodoh daripada kalian. Sesungguhnya, kami orang-orang Arab, berderajat sama.
Kami tidak memperbudak satu sama lain, kecuali jika ada yang memerangi pihak lain.
Aku menyangka bahwa kalian mengakui persamaan di antara kalian, sebagaimana kami.
Daripada kalian berbuat seperti itu, lebih baik kalian memberitahukan kepadaku bahwa sebagian dari kalian dianggap tuhan oleh sebagian yang lain.
Juga beritahukanlah bahwa duduk bersama raja diatas dipan seperti ini tidak pantas terjadi di kalangan kalian, sehingga kami tidak akan melakukannya dan kami pun tidak akan datang kepada kalian.
Akan tetapi kalian telah mengundangku. Maka hari ini aku tahu bahwa sesungguhnya kekuasaan kalian akan sirna, kalian akan dikalahkan, dan bahwasanya sebuah kerajaan tidak dapat dibangun dengan tata cara dan pola pikir seperti ini (yang tidak sesuai dengan Islam).”
Maka orang-orang jelata mengatakan, “Demi Allah! Orang Arab itu benar.”
Sedangkan para pemimpin dan pemuka masyarakat berkata, “Demi Allah! la telah melontarkan suatu ucapan yang akan dipegang terus oleh hamba sahaya kita!
Semoga Allah melaknat para pendahulu kita! Betapa bodohnya mereka ketika dahulu menganggap remeh bangsa Arab.”
-Lalu perawi meneruskan hadisnya mengenai ucapan Rustum dan jawaban yang diberikan oleh Mughirah radhiyallahu ‘anhu.






