BEBERAPA orang dari Bani Salimah pun bergegas mengikutiku seraya berkata, “Demi Allah! Setahu kami, kamu tidak pemah melakukan kesalahan besar sebelum ini.
Sungguh, kamu pasti mampu untuk mengajukan alasan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti alasan yang dikemukakan orang-orang lain yang
juga tidak ikut berangkat ke Tabuk.
Sedangkan permohonan ampun oleh Rasulullah.shallallahu ‘alaihi wasallam untukmu cukup sebagai penebus dosamu.”
Demi Allah! Mereka terus-menerus mengecamku hingga ingin rasanya aku kembali menemui Rasulullah lagi dan mengatakan bahwa tadi aku telah berbohong.
Kemudian aku bertanya kepada mereka, “Adakah orang lain yang keadaannya sama denganku?”
Mereka mejawab, “Ya, ada dua orang. Keduanya mengatakan seperti yang kamu katakan, dan mendapatkan jawaban dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti yang dikatakan kepadamu.”
“Siapa kedua orang itu?” Tanyaku lebih lanjut.
Mereka berkata, “Murarah bin Rabi’ Al-‘Amri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi.”
Mereka menyebutkan nama dua orang lelaki shalih yang telah mengikuti perang Badar, yang patut dijadikan teladan.
Setelah mereka menyebutkan nama kedua orang shalih itu, aku pun pergi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kaum muslimin untuk berbicara dengan kami bertiga saja, tidak termasuk orang-orang lain yang tidak ikut berangkat ke Tabuk.
Maka orang-orang menjauhi kami dan sikap mereka kepada kami pun berubah, sampai-sampai bumi ini terasa aneh bagiku.
Bumi ini seolah-olah bukan bumi yang telah aku kenal selama ini.
Kami bertiga menjalani keadaan ini selama lima puluh malam.
Dua orang temanku yang tidak ikut berangkat ke Tabuk hanya pasrah dan berdiam diri di rumahnya sambil menangis.
Sedangkan aku adalah yang paling muda dan paling kuat di antara kami bertiga.
Maka aku masih tetap melakukan shalat berjamaah bersama kaum muslimin. Aku juga masih keluar-masuk pasar tanpa ada seorang pun yang mengajakku berbicara.
Aku pernah menghampiri Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam kepada beliau ketika beliau masih duduk di tempatnya seusai shalat.
Aku berkata dalam hati, “Apakah beliau menggerakkan kedua bibirnya dengan menjawab salamku atau tidak?”
Kemudian aku mengerjakan shalat di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku mencuri pandang ke arah beliau.
Bila aku sibuk dengan shalatku, maka beliau menghadap ke arahku.
Namun bila aku menoleh ke arah beliau, maka beliau berpaling dariku.











