Ia berkata, “Wahai, Rasulullah! Perintahkanlah kepadaku sesuatu yang engkau sukai dan aku tidak akan membangkang perintahmu.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merasa heran atas ucapannya itu, karena ia masih remaja.
Lalu, beliau bersabda kepadanya ketika itu, “Pergilah! Lalu, b*n*hlah ayahmu. Kemudian, ia pun keluar dan berangkat untuk melakukannya.
Lalu, beliau mengundangnya dan berkata kepadanya, “Kembalilah ke sini, karena sesungguhnya aku tidak diutus untuk memutuskan hubungan kerabat.”
Kemudian, setelah itu Thalhah sakit.
Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang menjenguknya pada musim dingin dalam suasana yang begitu dingin dan mendung.
Ketika hendak pulang, beliau berkata kepada keluarga Thalhah, “Aku lihat sepertinya telah ada tanda-tanda kematian pada diri Thalhah.
Jika ia meninggal nanti, beritahukanlah kepadaku sehingga aku menyaksikan jenazahnya dan menyalatinya, namun segeralah mengurus jenazahnya.”
Sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di perkampungan Bani Salim bin ‘Auf, Thalhah pun meninggal dan malam pun tiba.
Diantara kata-kata yang diucapkan Thalhah sebelum meninggal adalah, “Kuburlah aku dan relakan aku berjumpa dengan Tuhanku ‘azza wajalla, dan jangan kalian memberi kabar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena aku khawatir orang-orang Yahudi akan mengganggunya dalam perjalanan menuju ke sini.”
Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendapat kabar kematiannya ketika pagi tiba.






