ABU YA’LA meriwayatkan beserta sanadnya dari Ummu Salamah radhiyallâhu ‘anhů -istri Nabi shallallôhu ‘alaihi wasallam– bahwa suatu ketika Rasulullah shallallóhu ‘alaihi wasallam berkata kepada Fatimah, “Ajaklah suami dan kedua anakmu ke sini!”
Maka Fatimah datang membawa mereka.
Lalu, Rasulullah shallallôhu ‘alaihi wasallam melontarkan kepada mereka sehelai kain buatan Khaibar yang tadinya aku duduki.
Kami mendapatkan kain itu dari Khaibar.
Kemudian, beliau berdoa, “Ya, Allah. Mereka adalah keluarga Muhammad. Maka berikanlah rahmat dan keberkahanMu kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikannya kepada keluarga lbrahim. Sesungguhnya, Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
[Haitsami (9/166) berkata: Dalam sanadnya terdapat “Uqbah bin Abdullah Ar-Rifa’i, seorang rawi yang dha’if.
Sedangkan Tirmidzi meriwayatkannya sebatas pada lafal shalawatnya saja].
Thabarani meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu ‘Ammar, ia berkata: Suatu ketika aku pernah duduk bersama Watsilah bin Asqa’.
Tiba-tiba orang berbicara tentang Ali radhiyallôhu anhu dan mencelanya.
Lalu, ketika mereka telah pergi, Watsilah berkata (kepadaku): Duduklah! Aku akan memberitahumu tentang orang yang mereka cela.
Pada suatu hari, ketika aku bersama Rasulullah shallalláhu alaihi wasallam, tiba-tiba datanglah Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain radhiyallóhu anhum.
Lalu, beliau melontarkan kepada mereka sehelai kain miliknya.
Kemudian, beliau berdoa, “Ya, Allah. mereka adalah anggota keluargaku! Maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.”
Aku pun berkata, “Saya juga, wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda, “Kamu juga.”
Watsilah berkata, “Demi Allah, sungguh, doa itu merupakan amal yang paling aku yakini dalam diriku (sebagai sebab keselamatan).”
Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Sungguh, doa itu adalah yang paling aku harapkan diantara apa yang bisa aku harapkan.”
[Haitsami (9/167) berkata: Diriwayatkan beserta sanadnya oleh Thabarani dengan dua sanad, para perawi dalam riwayat tersebut adalah para perawi Kitab Shahih selain Kultsum bin Ziyad.






