11 - ImanUpdate

Iman dan Keyakinan Para Sahabat Nabi SAW. Kepada Perkara yang Ghaib

15
×

Iman dan Keyakinan Para Sahabat Nabi SAW. Kepada Perkara yang Ghaib

Sebarkan artikel ini

Aku berkata, “Ini sepasang sandal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau mengutusku dengan bukti sepasang sandal ini, agar memberikan kabar gembira kepada orang yang aku temui sedangkan ia bersaksi dengan hati yang yakin bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dengan kabar gembira berupa Surga.”

Maka Umar memukul dadaku dengan tangannya hingga aku jatuh terduduk. Lalu, la berkata, “Kembalilah kamu, wahai Abu Hurairah.”

Aku pun kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Lalu aku mengadu seraya ingin menangis, sementara Umar menyusulku, dan ternyata ia sudah berada di belakangku.

Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Ada apa denganmu, wahai Abu Hurairah?”

Aku berkata, “Saya bertemu dengan Umar, lalu saya memberitahukan kepadanya apa yang engkau tugaskan kepadaku.

Maka ia pun memukul dadaku sampai aku jatuh terduduk.

Lalu, ia berkata kepadaku, ‘Kembalilah kamu!””

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahal, Umar. Apa yang mendorongmu melakukan hal itu?”

la berkata, “Wahai, Rasulullah. Saya rela mengorbankan ayah dan ibuku demi engkau! Benarkah engkau mengutus Abu Hurairah dengan bukti kedua sandalmu, agar menyampaikan kabar gembira kepada orang yang la temui, sedangkan ia bersaksi dengan hati yang yakin bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dengan kabar gembira berupa surga?”

Beliau bersabda, “Benar.”

Umar berkata, “Janganlah engkau melakukannya, karena saya khawatir bahwa orang-orang akan mengandalkan kabar gembira itu. Biarkanlah mereka beramal,”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika demikian, biarkanlah mereka.” [Demikian dalam kitab Jam’ul-Fawa’id (1/7)].

2. Kabar Gembira Masuk Surga dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bagi Orang yang Meninggal Tanpa Menyekutukan Sesuatu pun dengan Allah

BUKHARI dan Muslim meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, la berkata; Ketika aku keluar rumah pada suatu malam, aku lihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berjalan seorang diri, tanpa seorang pun bersamanya.

Aku berkata dalam hati, “Mungkin saat ini beliau tidak ingin ada seorang pun berjalan bersamanya.”

Maka aku terus berjalan kaki di bawah naungan sinar rembulan.