11 - Iman

Iman dan Keyakinan Para Sahabat Nabi SAW. Kepada Perkara yang Ghaib

24
×

Iman dan Keyakinan Para Sahabat Nabi SAW. Kepada Perkara yang Ghaib

Sebarkan artikel ini

Namun, beliau tidak juga kembali setelah sekian lama. Kemudian, aku mendengar beliau berkata sambil berjalan ke arahku, “Meskipun ia berzina dan mencuri.”

Begitu beliau datang, aku tidak sabar lagi untuk bertanya Aku pun berkata, “Wahai, Nabiyyullah! Semoga Allah mengorbankan aku demi engkau. Siapakah yang engkau ajak bicara di kawasan berbatu itu? Saya tidak mendengar seorang pun yang menjawab ucapanmu”

Beliau bersabda, “Dia adalah Jibril. la menampakkan diri kepadaku di kawasan berbatu itu.

Lalu, ia berkata, ‘Berikanlah kabar gembira bagi umatmu bahwa barangsiapa meninggal tanpa menyekutukan sesuatu pun dengan Allah, ia pasti masuk surga.

Aku pun berkata, ‘Wahai Jibril, meskipun ia berzina dan mencuri?’

la berkata, “‘Ya.”

Aku bertanya, “Wahai, Rasulullah. Meskipun ia mencuri dan berzina?”

Beliau bersabda, “Ya.”

Aku bertanya lagi, “Meskipun ia mencuri dan berzina?”

Beliau bersabda, “Ya, meskipun ia minum arak.”

[Demikian dalam kitab Jam’ul-Fawa’id (1/7). Penulisnya berkata: Diriwayatkan pula oleh Tirmizi dan juga dalam riwayat yang lain oleh Bukhari dan Muslim dengan lafal yang sebagian besarnya sama, dan pada pertanyaan Abu Dzar yang ke empat ada tambahan sabda beliau, “Meskipun Abu Dzar tidak suka.”)

3. Kisah Orang Badui Bernama Alqamah Radhiyallahu ‘Anhu yang Paham Agama

IBNU ‘ASAKIR meriwayatkan beserta sanadnya dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang kakek tua Badui yang bernama ‘Alqamah bin ‘Ulatsah radhiyallahu ‘anhu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, “Wahai, Rasulullah. Saya ini sudah tua renta. Saya tidak bisa mempelajari Alquran, namun saya bersaksi dengan penuh keyakinan bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya.”

Kemudian, setelah orang tua itu pergi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang itu (kawan kalian itu) telah paham.” [Demikian dalam kitab Kanzul-‘Ummál (1/70)].

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Khara’ithi dalam kitab Makârimul-Akhlaq dan Daraquthni dalam kitab Al-Afrâd dari hadis riwayat Anas, sedangkan sanadnya sangat dha’if. -sebagaimana dalam kitab Al-Ishâbah (2/503).

4. Hadis Utsman Radhiyallahu ‘Anhu Mengenai Diharamkannya Neraka Bagi Orang yang Mengucapkan Syahadat

AHMAD meriwayatkan beserta sanadnya dari Utsman bin ‘Affan rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya, aku mengetahui suatu kalimat yang apabila diucapkan oleh seorang hamba secara tulus dari lubuk hatinya, pasti Neraka diharamkan terhadapnya,”

Umar bin Khattab berkata, “Maukah kamu jika aku sampaikan kepadamu kalimat apakah itu?

la adalah kalimat ikhlas yang telah Allah tabaraka wata’ala wajibkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Ia adalah kalimat takwa yang dengannya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam membujuk pamannya (Abu Thalib) agar mengucapkannya menjelang kematiannya. Yaitu bersaksi atas kalimat la ilaha illallah (tidak ada tuhan selain Allah).” [Demikian dalam kitab Majma’uz-Zawâ ‘id (1/15)].

error: Content is protected !!