Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Ibnu ‘Asakir dalam Kitab Al-Amâlî dari Ali radhiyallahu ‘anhu, dengan lafal yang sebagian besarnya sama.
[Demikian dalam Kitab Kanzul-‘Ummal (8/221)].
3. Nasihat Ali kepada Anaknya, Hasan Radhiyallahu ‘Anhu, Setelah Disabet Pedang Serta Mau’izah-Mau’izahnya yang Lain
IBNU ‘ASAKIR meriwayatkan beserta sanadnya dari ‘Uqbah bin Abu Shahba’, ia berkata: Setelah Ibnu Muljam menyerang Ali radhiyallahu ‘anhu (dengan pedang), Hasan radhiyallahu ‘anhu datang menjenguknya dalam keadaan menangis.
Ali bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis, hai anakku?”
Hasan menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, sedangkan engkau akan menghadapi hari pertama dari kehidupan akhirat, dan hari terakhir dari kehidupan dunia.”
Ali berkata, “Hai anakku! Ingatlah selalu empat perkara dan empat perkara lainnya.
Apa pun yang kamu lakukan tidak akan menjadi masalah bagimu selama dilandasi perkara-perkara itu.”
Hasan bertanya, “Apakah itu wahai ayah?”
Ali berkata, “Yaitu: (1) kekayaan yang paling besar adalah kecerdasan.
(2) kefakiran yang paling besar adalah kedunguan,
(3) keterasingan yang paling besar adalah sikap ujub (bangga diri)
Dan (4) kemuliaan yang paling besar adalah akhlak yang baik.”
Hasan berkata: Aku pun bertanya, “Wahai ayah! Itu baru empat, beritahukanlah kepadaku tentang empat perkara lainnya.”
Maka Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Yaitu: (1) janganlah kamu berteman dengan orang dungu, karena jika ingin membantumu, ia justru merugikanmu.
(2) janganlah kamu berteman dengan pembohong, karena sesuatu yang jauh ia katakan dekat, dan yang dekat ia katakan jauh.
(3) janganlah kamu berteman dengan orang bakhil, karena ia akan menjauh darimu pada saat kamu sangat memerlukannya.
(4) janganlah kamu berteman dengan orang fasik, karena ia akan menjualmu dengan harga yang sangat murah.”
[Demikian dalam Kitab Kanzul-‘Ummâl (8/236)].






