1. Nasihat Ali bin Abu Thalib kepada Umar bin Khattab
IBNU ‘ASAKIR meriwayatkan beserta sanadnya dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Suatu ketika Umar berkata kepada Ali radhiyallahu ‘anhuma, “Berilah aku nasihat wahai Abu Hasan!”
Ali berkata, “Janganlah kamu menganggap keyakinanmu sebagai keraguan. Janganlah kamu menganggap ilmumu sebagai kejahilan.
Dan janganlah kamu menganggap persangkaanmu sebagai kebenaran.
Ketahuilah bahwa tidak memiliki hak terhadap dunia kecuali apa yang telah kamu sedekahkan sehingga kamu simpan pahalanya, apa yang kamu bagikan (sebagai nafkah) secara adil, dan apa yang kamu pakai hingga menjadi usang.”
Umar berkata, “Kamu benar, wahai Abu Hasan!”
[Demikian dalam Kitab Kanzul-‘Ummál (8/221)].
Baihaqi Meriwayatkan beserta sanadnya dari Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia pernah berkata kepada Umar radhiyallahu ‘anhu, “Wahai Amirul-Mukminin! Jika engkau senang untuk menyusul dua orang sahabatmu, maka pendekkanlah angan-angan, makanlah tidak sampai kenyang, pendekkan sarung, tamballah baju gamis, dan tambal pula sandal, niscaya kamu akan dapat menyusul mereka.”
[Demikian dalam Kitab Kanzul-‘Ummâl (8/219)].
2. Ali Radhiyallahu ‘Anhu Menjelaskan tentang Hakikat Kebaikan dalam Sebuah Mau’izah
ABU NU’AIM dalam Kitab Hilyatul-Auliya (1/75) meriwayatkan beserta sanadnya dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kebaikan itu bukanlah apabila harta dan anakmu bertambah banyak.
Akan tetapi kebaikan adalah apabila ilmumu bertambah, sikapmu semakin santun, dan kamu bisa mengungguli orang lain dalam
beribadah kepada Tuhanmu.
Jika melakukan kebaikan kamu memuji Allah, dan jika berbuat keburukan kamu memohon ampunan kepada Allah.
Tidak ada kebaikan di dunia, kecuali bagi dua orang: (1) orang yang apabila berbuat dosa segera memperbaikinya dengan tobat.
Dan (2) orang yang bersegera melakukan amal-amal kebaikan.
Suatu amal baik tidak dapat dianggap sedikit jika didasari ketakwaan.
Bagaimana bisa dianggap sedikit jika suatu amal diterima oleh Allah?”






