ABU NU’AIM dalam Kitab Hilyatul-Auliya (1/234) meriwayatkan beserta sanadnya dari Muhammad bin Sirin, ia berkata: Suatu ketika seorang laki-laki menjumpai Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.
Ketika itu disana ada kawan-kawannya yang datang mengucapkan salam dan menyampaikan kata-kata perpisahan kepadanya.
Mu’adz berkata kepada laki-laki itu, “Aku berpesan kepadamu dengan dua perkara.
Jika kamu dapat menjaganya, niscaya kamu pun akan terjaga:
Kamu tidak akan bisa terlepas dari bagianmu di dunia, namun kamu akan lebih memerlukan bagianmu di akhirat.
Oleh karena itu utamakanlah bagianmu di akhirat daripada bagianmu di dunia dan aturlah sedemikian rupa sehingga keadaan seperti itu tetap bersamamu di mana pun kamu berada.”
Abu Nu’aim meriwayatkan beserta sanadnya dalam Kitab Hilyatul-Auliya (1/236) dari Amr bin Maimun Al-Audi, ia berkata: Suatu ketika Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berdiri di hadapan kami, lalu berkata, “Wahai segenap Bani Aud Sesungguhnya aku adalah utusan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.
Yakinlah kalian bahwasanya tempat kembali yang sesungguhnya adalah kepada Allah, kemudian akan menuju surga atau neraka, tempat tinggal yang tidak pernah akan ditinggalkan lagi, dan keabadian dalam sebuah jasad yang tidak akan pernah mati.
Abu Nu’aim dalam Kitab Hilyatul-Auliyò (1/234) meriwayatkan beserta sanadnya dari Mu’awiyah bin Qurrah, ia berkata: Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata kepada anaknya, “Wahai anakku! Apabila hendak mengerjakan shalat, maka shalatlah kamu sebagaimana shalat orang yang mau mati, dan janganlah berpikir bahwa kamu akan bisa mengerjakan shalat lagi selamanya.
Ketahuilah wahai anakku, bahwa orang mukmin akan mati diantara dua kebaikan: (1) kebaikan yang pahalanya telah ia kirimkan ke akhirat, dan (2) kebaikan yang pahalanya tetap mengalir.”
Abu Nu’aim meriwayatkan beserta sanadnya dalam Kitab Hilyatul-Auliya (1/233) dari Abdullah bin Salamah, ia berkata: Seseorang berkata kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, “Ajarilah aku sesuatu.”
Mu’adz berkata, “Apakah kamu mau taat kepadaku?”
Orang itu menjawab, “Sungguh, aku ingin sekali bisa taat kepadamu.”
Maka Mu’adz berkata, “Hendaklah ada bagimu hari untuk berpuasa dan hari untuk berbuka, dan hendaklah ada bagimu waktu untuk sjalat dan waktu untuk tidur.
Bekerjalah kamu untuk mendapatkan penghasilan tanpa berbuat dosa.
Jangan sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan hindarilah doa orang yang dizalimi.”






